MENGANTAR DI PINTU RUANG BERCERMIN

Berbagi Cermin Hidup...

Adalah niatanku (dan mereka yang turut berkisah) untuk saling berbagi proses dan hasil perenungan hidup kami. Aku masih seorang pemula, dan pasti juga bukan perintis. Kita teruskan saja apa yang pernah dan masih menjadi baik.
Jika kau bisa menemukan cerminmu di kisah-kisah yang kuceritakan, aku ikut merasa senang. Jika tidak, berbagilah dengan orang-orang lain, karena mungkin seseorang yang lain bisa menemukan cerminnya di situ.
Mari berbagi cermin hidup.

Minggu, 05 September 2010

OWNER OF A LONELY HEART

(Si Empunya Hati yang Kesepian)



Owner of a lonely heart
Much better than an owner of a broken heart

You’ve been hurt so before
Watch it now
The eagle in the sky
How he dancing one and only
Be yourself
Give your free will a chance


In the end you’ve got to go
Look before you leap
And dont you hesitate at all. No no
Sooner or later its conclusion will decide the- lonely heart
It will excite, it will delight
It will give a better start
Dont deceive your free will at all


Si empunya hati yang kesepian
Jauh lebih baik daripada hati yang hancur
Kau telah sangat terluka
Lihatlah
Elang di langit
Bagaimana dia menari sendirian saja
Pada akhirnya kau harus melakukannya
Lihat sebelum melompat
Dan janganlah ragu, jangan sekali pun
Cepat atau lambat sang akhir akan menentukan langkah empunya hati kesepian
Memberikan gairah, kepuasan
Memberikan awal yang lebih baik
Jangan pernah menipu kehendak bebasmu


Aku ambil beberapa baris lagu “Owner of A Lonely Heart”-nya kelompok pemusik rock Yes yang bagiku begitu mengena. Tiap kali mendengarkan lagu ini, rasanya ingin menyanyi sekerasnya sampai paru-paru pecah dengan gaya seorang rocker. Yeahhh!!!! Jadul? Nggak, men! Ini lagu sepanjang masa! Lagu kayak gini semestinya dibikin lagi versi terbarunya dengan nada lebih cadas pakai suara vokalis Metallica, Limp Biskit atau Korn! Dilatarnya ditingkahi rap-nya Eminem. Siapa sajalah, yang penting lebih keras dan lebih berkeringat! Sekali lagi, yeeaaahhhh!!!!

Oke. Sekarang, kembali ke modus lebih tenang. Bicara lebih serius. Hssshhh, ambil nafas panjang, hembuskan perlahan. Rileks. Saatnya merenung.


********************

Lebih baik si empunya hati yang kesepian daripada si empunya hati yang patah-patah hancur? Beritahu aku, kau pernah merasa kesepian? Pernah merasa patah hati sampai hancur rasanya? Mana yang lebih baik? Mengapa kau mesti pada suatu saat merasa kesepian? Mengapa pula mesti hancur hatimu?

Orang yang kesepian adalah yang ditinggalkan orang-orang lain, atau dia meninggalkan orang-orang lain. Orang kesepian tidak sepaham dengan orang-orang lain, tidak dipahami pilihan hidupnya. Orang kesepian jauh tertinggal di belakang orang-orang lain, atau orang-orang lain itu yang jauh tertinggal di belakang. Orang kesepian mengambil jalan yang berbeda dari semua orang-orang lain. Orang kesepian menjauh dari orang-orang lain atau orang-orang lain menjauh darinya. Orang-orang lain sudah pergi meninggalkannya. Dia dianggap sepi. Orang kesepian tidak punya siapa-siapa selain dirinya sendiri.

Lihat, lihatlah elang di langit sana. Lihat bagaimana dia menari sendirian saja, lihat bagaimana dia megah dan anggun bebas menari di udara lepas dan tinggi. Indah, bukan? Pernah baca bagaimana kisah pengembaraan kaum Sufi? Atau mungkin dulu pernah jadi penggemar film seri Kwan Chang Caine? (sepertinya aku salah mengingat namanya) Dia juga seorang pengembara hanya berbekalkan seruling dan sebuntal bawaan yang ringan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Atau simak lirik “Sang Petualang” yang dinyanyikan oleh si Oom ganteng Iwan Fals. Atau pernah baca novel “Into The Wild”-nya Jon Krakauer? Atau yang suka komik, ingat Lucky Luke, the lonesome cowboy?

Orang seperti apakah yang sanggup dan sudi hidup dengan gaya seperti pengembara Sufi? Odolnya saja pakai siwak, sikat giginya pakai jari telunjuk. Banyak orang menjuluki orang Sufi adalah orang gila pecinta Tuhan. Yang pernah membaca kisah nyata “Into The Wild” akan merasa miris mengetahui bagaimana akhirnya Chris Knowles si pemuja kesendirian benar-benar mati sendirian, kelaparan, keracunan dan dingin membeku di dalam sebuah bis rusak di tengah hutan dalam musim dingin di dataran Alaska.

Orang waras mana pun tidak akan mau jadi seperti si Sufi atau Chris Knowles, atau sang petualang di lagu Kantata Takwa, atau si Caine. Cuma orang gila. Dan orang gila hampir selalu sendirian. Di mata orang-orang biasa yang waras, orang-orang gila ini dilihat sebagai orang yang kesepian. Tapi apakah “orang-orang kesepian” ini hatinya hancur? Hmmm? (...Apakah elang di langit sana sedang patah hati?...) Ataukah mereka harus berjalan sendirian karena sedang mencari dan menjalani sesuatu yang tidak dimimpikan orang banyak yang lain? (...Apakah elang di langit sana sendirian saja karena tidak ada burung lain yang cukup percaya diri untuk terbang setinggi dia dengan gerak begitu anggunnya?...)

Inilah, simak-seksama ‘Sang Petualang’ (Iwan Fals-Kantata Takwa):
Petualang bergerak tenang, melihat diri untuk pergi lagi. Yaaa, sejenak, hanya sejenak, ia membelai semua luka. Sekejap, hanya sekejap, ia merintih pada samudra. Sebebas camar kau berteriak. Setabah nelayan menembus badai. Seikhlas karang menunggu ombak. Seperti lautan engkau bersikap. Petualang, merasa sunyi (sepi). Sendiri, di hitam (kelam) hari. Petualang jatuh terkapar (terkulai), namun semangatnya masih berkobar (bagai matahari).

Sang petualang tidak mau menyandang hati yang remuk redam berlama-lama. Dibelainya lukanya hanya sejenak, merintih dia pada samudera hanya sekejap. Lalu dia akan bergerak lagi dengan tenang dan pasti. Semangatnya tetap berkobar, tetap bebas, tetap ikhlas, tetap tabah, tetap bersikap. Lebih baik dia merasa sepi daripada berlama-lama merasa (menjadi) hancur. Untuk sanggup menanggung kesepian dalam perjalanan tanpa merasa remuk menjadi seperti elang, seperti Sufi, seperti sang petualang adalah para teladannya.

Perjalanan dalam kesendirian. Aku merasa ngeri kalau bertemu orang-orang yang memiliki nyali melakukan perjalanan yang diniatkannya dan diyakininya walau harus ditempuh dalam kesendirian. Kecil aku rasanya di hadapan orang-orang macam begini. Takkan bisa aku berdiri tegak berhadapan dengan mereka. Makhluk yang selalu hampir punah seperti ini, tidak ada yang mampu menghentikannya, tidak oleh siapa pun dan apa pun, kecuali ajal sendiri yang menghentikan langkahnya. Orang-orang seperti ini sudah tidak lagi mempan diiming-imingi tentang surga atau ditakut-takuti tentang neraka, mereka sudah keluar dari jerat itu. Mereka semata mencintai pilihan jalannya sendiri dan tujuannya sendiri, entah apa itu. Kita mungkin tak sanggup memahami mereka. Karena itulah mereka sendirian saja, karena kita lebih memilih berada bersama gerombolan teman dan keluarga dengan timbunan benda-benda kesayangan kita, daripada menjadi teman perjalanan sang petualang atau menjadi sang petualang itu sendiri.

Kalau aku Tuhan, maka orang-orang seperti inilah yang akan aku persilahkan menjejak kaki duluan di pintu masuk surga, lalu masuk ke daerah khusus para pecinta kesendirian dan pengembaraan. Atau, di titik ujung ekstrim lain adalah orang-orang yang pertama kali dipeluk mesra si iblis dalam barisan panjang untuk masuk neraka sekalian. Tapi di dunia konyol seperti ini, pasti akan jauh lebih panjang antrian masuk neraka daripada masuk surga. Orang-orang yang terlalu berani dan jahat pada akhirnya akan punya jauh lebih banyak pengikut daripada orang-orang yang terlalu berani dan baik. Membenci, merusak dan menghancurkan kehidupan jauuuh lebih mudah dan lebih enak daripada mencintai, membangun dan memelihara kehidupan. Kau saksikan saja, orang-orang yang terlalu berani dan jahat tidak akan lama-lama berjalan sendirian. Cukup segera, akan ada banyak orang yang tertarik mengikuti ajarannya. Sesungguhnya mereka tidak tahan berada sendirian berlama-lama dalam sepi. Jadi mereka sebenarnya tidak layak menyandang nama owner of a lonely heart.

Selain Sufi dan pengembara, ada satu lagi jenis owner of a lonely heart lain, yaitu para pioner, perintis, visioner atau penemu. Dia mungkin juga adalah seorang petualang secara fisik, bisa juga tidak. Yang pasti, imajinasinya dan gairahnya bertualang terlalu liar dan bebas mendobrak batas-batas sehingga pada suatu saat ide-ide ganjil menyatakan diri. Seringkali dia dijuluki orang gila, orang aneh. Secara fisik mungkin dia berada di tengah-tengah orang lain, tapi dalam dunia ide-nya dan passion-nya, dia benar-benar sendirian. Sebelum penemuannya menjadi milik orang banyak, dia diejek, dilecehkan. Tapi dengan gairah besar yang dimilikinya, maka biasanya dia tidak cepat menyerah dan terus mencoba sampai kemudian orang-orang lain mulai melihat bahwa dia benar, bahwa penemuannya menarik dan menguntungkan. Gairahnya mampu mengalahkan ketakutan dan ketidakacuhan orang banyak. Lalu dia akan jadi orang terkenal yang dikerubungi orang banyak. Jika dia adalah owner of a lonely heart sejati, maka tetap saja kerumunan itu tidak menarik baginya, tidak terlalu berarti, ketimbang berimajinasi dan bergairah secara liar lagi sendirian untuk menemukan ide-ide ganjil lainnya.


*******************

Owner of a broken heart, kenapa pula dibilang jauh lebih buruk daripada owner of a lonely heart? Orang yang patah hati, yang hancur hatinya bahkan tidak punya dirinya sendiri lagi, meskipun mungkin dia tidak sendirian melainkan berada dalam “keramaian”. Kehilangan arah, kehilangan hidupnya, kehilangan pilihan-pilihannya, kehilangan kehendak bebasnya. Dunia yang dilihatnya adalah dari mata hati yang sudah hancur. Walaupun dia berada bersama orang lain, tapi dia sudah kehilangan pilihan hidupnya, mimpinya, dirinya sendiri.

Banyak empunya hati remuk yang ketika sudah tidak punya pilihan bebas lagi, dia akan dipaksa/terpaksa untuk menjalani pilihan-pilihan orang-orang lain, semakin lama semakin terjebak dalam pilihan-pilihan yang orang lain buat untuk dirinya, semakin lama dia sudah tidak bisa membedakan lagi mana pilihan orang lain dan mana yang pernah menjadi pilihannya sendiri. Semakin lama semakin kehilangan keberaniannya untuk mengambil pilihannya sendiri.

Suatu saat orang-orang dengan hati hancur mungkin akan sampai pada suatu titik di mana datang sebuah kesadaran yang menohok bahwa dia tidak lagi bisa memahami dirinya sendiri, tidak punya kehidupannya sendiri lagi, tidak tahu lagi apa yang sebenarnya hilang dan dicari dalam hidupnya. Memang dia tidak berada sendirian saja, melainkan dia berada bersama orang-orang lain karena merasa berkewajiban untuk itu atau dia melihat tidak punya pilihan lain selain berada bersama orang-orang lain itu.

Owner of A Lonely and Broken Heart. Adalah yang paling nelangsa dan mengenaskan nasibnya dibanding si empunya hati yang remuk, apalagi dibandingkan dengan si empunya hati yang kesepian. Empunya hati yang nelangsa ini adalah orang-orang yang merasa telah jatuh berkeping-keping, tak berdaya, terbuang, tersesat dan semuanya itu dia jalani sendirian saja. Hancur dan kesepian…



Be yourself, give your free will a chance
In the end you’ve got to go.
Look before you leap
And don’t you hesitate at all
Don’t deceive your free will at all

Jadilah dirimu sendiri
Beri kesempatan pada kehendak bebasmu
Pada akhirnya kau harus melakukannya
Lihat sebelum melompat
Dan janganlah ragu, jangan sekali pun
Jangan pernah menipu kehendak bebasmu




Menteng, 12 Agustus 2010
Sondang Sidabutar (pekerja kemanusiaan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar