MENGANTAR DI PINTU RUANG BERCERMIN

Berbagi Cermin Hidup...

Adalah niatanku (dan mereka yang turut berkisah) untuk saling berbagi proses dan hasil perenungan hidup kami. Aku masih seorang pemula, dan pasti juga bukan perintis. Kita teruskan saja apa yang pernah dan masih menjadi baik.
Jika kau bisa menemukan cerminmu di kisah-kisah yang kuceritakan, aku ikut merasa senang. Jika tidak, berbagilah dengan orang-orang lain, karena mungkin seseorang yang lain bisa menemukan cerminnya di situ.
Mari berbagi cermin hidup.

Sabtu, 07 April 2012

GOD IS NOT A FANATIC

Jadi ceritanya, aku kembali nge-gawe, nih. Maluku adalah tempat aku membayar sebuah hutang dua tahun lalu yang sempat kuikrarkan.
 Apalagi kalo janjinya sempat terekam dengan jejak tak terhapus, seperti surat di e-mail, misalnya. Hadoh, hati-hati banget deh kalo udah soal bikin janji, nggak tenang sampe kebayar lunas. Sekali lagi aku bisa bersimpati pada teman-teman yang bilang bahwa mereka ingin sekali menulis refleksi tapi tidak mampu karena terlalu banyak kerjaan. Kerjaanku di sini nggak banyak, cuma satu macam, tapi yaaa gitu deh,… enerji mentalku diserap habis sama kerjaan yang satu ini. Soalnya cuma aku yang mikir! Mikir kalau musim ombak bikin gak bisa nyeberang ke pulau-pulau lain untuk kerjaan, mikir kalau orang-orang lain terlalu sibuk untuk ‘semestinya’ ikut bantu, mikir orang-orang yang ingkari janji-janji mereka dan hampir selalu meleset kalau bikin janji ketemu, mikir kalau konflik yang lagi terjadi di pulau sana bikin kerjaan harus nunggu dulu sampai konflik agak reda, mikir gimana aja caranya hemat-hemat anggaran supaya nggak meleset dari perhitungan, mikir gimana mau makan karena kampung-kampung di kepulauan Maluku nggak ada warung makan, mikir substansi kerjaan, mikir gimana caranya laporan bisa cepet kelar kalau tiap hari mati lampu berkali-kali, mikir ini, mikir itu… Aaarrrgghhh…

Di saat-saat tidak sedang lakukan kerja lapangan di pulau-pulau, aku tinggal di sebuah rumah lumayan besar di pinggir pantai, sendirian, di pinggir kota, dan nggak ada warung makan. Kalau cuma masak sekali-sekali nggak apa-apa lah. Tapi sumpah, kalau harus tiap hari masak, males banget! Apalagi kerjaan gak ada habis-habisnya dan rumah sebesar itu hanya aku sendiri yang merawat dan membersihkannya tiap hari. Aku ini tipe orang yang suka beres-beres dan rapi-rapi, tapi bukan tipe orang yang suka memasak. Jadi, walaupun bahan makanan mentah belum habis diolah, kalau lagi kumat malasnya (dan ini cukup sering), aku masak telor dan indomie saja. Yeah, well, I can’t be perfect. Tapi lihatlah, rumah besar ini tetap bersih dan rapi. Setelah rumah ini dilengkapi dengan kulkas baru beberapa minggu yang lalu, kalau ada teman yang mau mampir dan menanyakan mau dibawakan apa, aku jawab dengan yakin: “Makanan jadi!” Malu hanya bikin lapar. Syukur kalau bawanya banyak, aku bisa simpan di kulkas dan hangatkan kalau mau makan.

Ketika kerjaan lapangan sudah selesai dan saatnya mengolah data dan bikin laporan, yaitu kira-kira sebulan yang lalu, tiap hari aku habiskan mengurung diri di dalam rumah, kerja, kerja, kerja… Kerja giat tapi malas memasak. Lalu empat minggu yang lalu, beberapa penyakit datang sekaligus pada saat bersamaan, di awal-awal masa aku mulai mengolah data lapangan.

Maluku sedang berganti musim angin (untunglah kerja lapangan sudah selesai). Sekali-sekali datang badai yang cukup terasa spooky kalau sedang sendirian di rumah menjelang subuh, mati lampu dan angin sampai mengangkat tingkap di dalam kamar tidurku, di rumah besar di tepi pantai. Badai yang paling hebat di suatu malam membuat pohon-pohon rubuh, tiang-tiang listrik di beberapa tempat tumbang, membuat listrik yang sudah bermasalah sejak dulu itu tambah bermasalah lagi.

Aku sudah tahu bahwa pada musim-musim pancaroba biasanya ISPA (infeksi saluran pernafasan atas) berkunjung. Ya, dia datang lagi, yang ini sudah biasa. Tapi sekarang dia tidak sendiri, dia datang bersama teman-temannya yang lain. Aku mengalami demam tinggi yang tidak akan kualami kalau sekedar ISPA. Seluruh persendianku ngilu-ngilu, sampai pipis aja nggak bisa jongkok. Perutku terasa sangat tidak enak, ulu hatiku terasa seperti ditusuk dan diulir perlahan-lahan. Lalu aku mulai mengalami gatal-gatal di sekujur badanku dan bercak-bercak merah muncul. Aku merasa tersiksa sekali. Yang paling menggangguku adalah ngilu di tiap persendian itu. Makan pun terasa ngilu di sendi rahang.

Aku cukup yakin aku kena chikunguya, dari ngilu-ngilu di sendi, demam dan bercak merah. Soalnya aku pernah browsing cari informasi. Tapi waktu aku dibawa ke dokter, sehari setelah aku menderita demam tinggi, dia bilang bukan chikunguya. Aku memicingkan mata tidak percaya. Dokter bilang sepertinya aku kemasukan virus usus sehingga ususku meradang. Karena aku tidak teratur makan dan sering makan sambal serta minum kopi dalam keadaan perut kosong, asam lambungku naik dan membuat ulu hatiku terasa nyeri. Yaah, asam lambung itu juga yang membuat lambungku luka dan menambah kontribusi pada demamku. Belum lagi ISPA. Katanya gatal-gatal dan ngilu persendian itu akibat demam tinggiku. Kok, aku masih nggak percaya yah? Karena separah apa pun riwayat demamku, nggak pernah sampai membuat sendi-sendi ngilu, gatal-gatal dan muncul bercak-bercak merah di kulit. Tapi dia kan dokter. Untung biaya dokter dan obat-obatan dibayar sama lembaga yang mempekerjakanku.

Aku hanya istirahat satu hari lalu lanjut kerja lagi. Perjalanan masih panjang, gitu loh. Tidak ada siapa pun yang bisa bantu aku kalau udah di bagian ini. Dua hari setelah ke dokter, demamku turun. Tapi ngilu persendian, nyeri ulu hati, gatal-gatal dan bercak-bercak tak kunjung sembuh. Malah di belakang kedua telingaku muncul dua benjolan yang sakit kalau ditekan, membuat otot leherku kaku dan aku jadi cepat lelah bekerja di depan komputer sehingga harus beberapa kali berbaring sekedar mengendurkan otot leher dan pundak yang tegang itu. Obat habis di hari kelima. Jadi, setelah satu minggu kunjungan pertama ke dokter, aku pergi ke dokter yang sama itu lagi. Ya, itu kira-kira tiga minggu yang lalu dari sekarang.

Dia memeriksa benjolan di belakang telingaku, menempelkan sebuah alat di bagian lambungku, melihat ke tampilan di layar komputer dan bilang bahwa asam lambungku masih belum sembuh. Tapi dokter, kan demamku sudah hilang, kenapa masih gatal-gatal, bercak-bercak merah dan persendian ngilu-ngilu? Hmmm, nampaknya dokter tidak memberikan jawaban yang pasti. Tapi katanya, tidak usah test darah. Dia tuliskan jenis obat lain. Tetap pantang kopi, sambal dan makanan yang asam-asam. Goodbye buah-buahan di Ambon yang sedang musimnya, durian, gandaria dan buah langsa. Dia juga bilang jangan dulu makan sayur kangkung, bayam dan entah apa lagi, semua makanan kecintaanku. Aku sudah tahu bahwa satu kali periksa dokter saja dikenakan biaya tujuh puluh lima ribu rupiah. Waktu aku tanyakan ke teman yang mengurus pembayaran berapa harga obat-obat itu, dia bilang lebih dari empat ratus ribu. Haaahhh??? Jadi, dua kali kunjungan ke dokter itu memakan biaya kira-kira satu juta? Ampun, gak mau lagi aku ke dokter, walau pun bukan pakai uangku sendiri.  

Kali ini tidak ada waktu untuk istirahat. Tapi, you know what? Walau pun aku bisa berjuang dengan keras kepalanya melawan penyakit-penyakit, tetap ada hal-hal yang terjadi di luar kuasaku. Ya Tuhan, kesialan apa lagi ini? Laptop-ku error, gak mau nyala. Terpaksa hanya mengadalkan kerja dengan PC. Mati lampu terjadi lebih sering lagi dalam kadar lebih parah, dalam satu hari listrik mati dari pagi sampai hari gelap, dan setelah itu pun masih berkali-kali mati lagi di hari yang sama. Fuck you, PLN!!!  Just go and rot in hell!!! Haduuuh, suatu kali aku merasa ingin menangis saja tak berdaya. Aku SMS pimpinan lembaga yang pekerjakan aku dan minta tambahan perpanjangan tenggat waktu satu minggu lagi. Dia setuju saja. Syukurlah… Katanya ada baiknya aku jeda sebentar. Duh Ibu, aku ini nyaris tidak pernah jeda dalam pekerjaan ini sejak awal aku memulainya.

Obat habis di hari kelima setelah kunjungan kedua ke dokter itu. Tapi gatal-gatal menghebat dan bercak-bercak itu seperti pakaian dalam bercorak hampir di sekujur tubuhku. Temanku bilang jangan digaruk karena nanti akan membekas. Tapi kubilang, menggaruk kulit yang gatal adalah salah satu kenikmatan terbesar dalam hidup yang tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar HAM. Dasar keras kepala. Beberapa teman di Ambon dan tetangga-tetanggaku bilang aku kena sarampa, katanya sejenis campak dalam bahasa lokal. Gatal-gatal dan bercak-bercak itu. Mereka semua, ya mereka semua, bilang aku harus mandi dengan rebusan daun asam jawa. Oke, kulakukan itu. Katanya, semakin gatal berarti akan sembuh. Dan betul, rasanya semakin gatal saja. Setelah empat hari mandi dengan rebusan daun asam jawa, aku menyerah. Hah, biarlah mau gatal, biarkan saja. Aku lelah dengan penyakit-penyakit ini. Dua hari setelah menyerah, gatal-gatal dan bercak hilang dan meninggalkan bekas garukan di beberapa tempat. Nggak banyak sih, masih bisa lah ikut kontes kecantikan untuk kategori usia paruh baya.

Jadi, itulah yang terjadi sejak empat minggu yang lalu sampai seminggu yang lalu. Laporan selesai tanggal 27 Februari yang lalu setelah tiga hari begadang. Aku tidur panjang di dua hari setelahnya. Oya, beberapa hari setelah itu aku sempat buang air mencret dan berangin. Heheheh, jadi ceritanya, setelah dua minggu puasa kopi dan sambal, aku mulai lagi minum kopi dan mulai mengkonsumsi sedikit sambal. Tapi, tapi, tapi, aku usahakan hanya minum kopi kalau perut sudah penuh makanan dan sambal hanya sedikit, tidak sesadis dulu. Si asam lambung itu tidak terasa seperti waktu sakit itu, kok. Karena aku selalu mengisi perutku begitu sudah terasa kosong dan mulai terasa perih di lambung. Aku siapkan biskuit-biskuit relatif sehat di kulkas yang cepat-cepat kumakan tiap kali perut kosong (dan aku masih malas memasak).

Hari Minggu tanggal 1 April, datanglah lagi penyakit baru. Tuhan Allah! (Tuhan Allah adalah teriakan yang biasa dilontarkan oleh orang-orang lokal Maluku, tentunya dengan logat lokal mereka) Yak, sampai di mana tadi?... Tuhan Allah! Hiiih? Penyakit apa lagi ini? Minggu pagi kedua sendi kakiku, mulai dari mata kaki ke bawah, seluruhnya terasa ngilu dan sakit jika digerakkan dan dijejak ke tanah. Aku pincang! Sebelum hari Minggu itu, aku habiskan waktu tiga hari mendampingi dua remaja korban kekerasan selama mereka berada di Ambon. Aku banyak bergerak dan berjalan dengan mereka, dan memang melelahkan. Begitu tugas mendampingi mereka selesai untuk sementara waktu itu, nyeri kaki itu datang, membuatku berjalan pincang perlahan-lahan dengan langkah-langkah kecil hingga hari ini. Katanya aku menderita asam urat. Ya, memang dulu aku pernah beberapa kali mengalami nyeri di sendi lutut, tapi tidak pernah separah dan sepincang ini, dan tidak pernah di bawah situ!  

Beberapa temanku bilang semua penyakit yang datang menyerbuku itu adalah sebuah akumulasi. Well, aku beritahu, ya: separah apa pun keadaanku di masa lalu, tidak pernah keadaannya separah ini sampai penyakit-penyakit menyerbu seperti ini. Aku kenal dengan pola dan masalah kejiwaanku. Bila aku tertekan dengan masalah pekerjaan, biasanya yang mampir itu adalah migrain, paling parah migrain cuma membuatku mual mau muntah. ISPA hanya di musim-musim pancaroba dan semakin aku terbiasa semakin ISPA tidak memunculkan masalah. Itu saja. Aku pernah lebih stress dan rasanya mau gila saja dengan sebuah pekerjaan sampai enam bulan lamanya dan tidak jatuh sakit. Hanya migrain di saat-saat tenggat waktu mendekat.  

Aku kok merasa ada yang aneh, ada sesuatu yang lain. Dimulai empat minggu yang lalu, setelah kunjungan ke Pulau Saparua. Waktu itu aku bisa dibilang berperjalanan ke seluruh pulau, dari ujung satu ke ujung lain. Mungkinkah ada yang sedang melancarkan guna-guna ke aku? Hahahaha, ya tertawalah! Bukankah ilmu pengetahuan sekarang sedang berputar arah kembali ke kiblat Timur? Bukankah fenomena-fenomena yang dulu dinilai magis sekarang satu persatu mulai diungkap dan dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan?

Temanku bertanya: “Did you do something that upset the boy?” Aku pernah bercerita padanya bahwa sehari setelah aku mulai menempati rumah besar ini sendirian, malamnya aku bermimpi didatangi dan dicumbu lelaki pujaanku dari masa laluku, dari masa SMP. Dia datang lagi dan bercinta denganku di dalam mimpi setelah aku pulang dari seminggu bertugas di Pulau Haruku. Pulau Haruku adalah pulau kunjungan sebelum aku ke Pulau Saparua. Tapi setelah itu dia tidak pernah datang lagi. Oya, di sebelah rumah ini ada rumah kuburan besar berisi dua orang, yang satu adalah lelaki yang meninggal umur 19 tahun karena kecelakaan sepeda motor. Yaaah, silakan dihubungkan saja fenomenanya.

Seorang teman yang lain di Ambon, setelah memberikan aku sebotol sari buah sirsak untuk meredakan asam uratku, bilang bahwa harus diadakan upacara selamatan untuk rumah itu dan mengusir roh-roh jahat bila memang ada. Kubilang, selama dua setengah bulan aku tinggal sendirian di rumah ini, aku merasa tenang dan nyaman, tidak pernah ada gangguan yang aneh-aneh. Kalau pun begadang, itu karena aku harus tetap terjaga karena harus mengejar pekerjaanku. Aku selalu tidur nyenyak walau kadang gelap gulita karena mati lampu. Aku selalu memastikan rumah ini dalam keadaan bersih dan rapi. Oya, aku selalu membersihkan dan merapikan tempat-tempat baru yang aku tinggali sebagai semacam klaim kepada “para penghuni lama” bahwa aku pun ikut menjaga dan merawat tempat itu. Aku percaya bahwa kebanyakan “penghuni lama” adalah baik dan mereka tidak akan mengganggu kalau kita ikut menjaga dan merawat tempat itu. Biasanya yang jahat dan mengganggu adalah yang datang dari luar tempat itu. Ah ya, ngomong-ngomong sari buah sirsak yang dibawakan temanku itu sudah kuminum lima hari ini karena rasanya enak, seperti sirup sirsak.

Kalau pun ada kehadiran-kehadiran baru di rumah ini, pasti aku bisa merasakannya karena aku memang bisa merasa walau tidak bisa melihat dan mendengarnya. Dan kalau soal-soal seperti ini, aku bukan orang penakut. Akan aku hadapi kalau memang kehadiran itu membuat keonaran di tempat aku tinggal dan beristirahat. Aku pernah tinggal di tempat-tempat yang kata orang punya banyak roh halus di dalamnya. Well, sejauh mereka tidak mengganggu aku, aku tidak mempermasalahkan kehadiran mereka. Jadi kesimpulanku, “penghuni” lama di rumah ini tidak punya masalah dengan aku dan saat ini aku tidak merasakan adanya kehadiran baru. Aku lebih merasa ngeri menyeberang di jalan-jalan di kota Ambon. Banyak sudah korban jiwa karena kecelakaan sepeda motor di sini.  

Aku SMS ibu pendeta di Saparua yang menjadi tempat mondok selama empat hari aku bertugas di Saparua. Aku minta beliau mendoakan aku karena setelah pulang dari Saparua aku diserbu penyakit-penyakit dan hal itu adalah aneh karena belum pernah terjadi sebelumnya. Ibu pendeta bilang bahwa beliau selalu mendoakan aku dan menyarankan kalau ada hal-hal aneh seperti itu, aku minum air putih yang sudah didoakan sebelumnya. Aku lakukan anjuran beliau. Setelah itu aku cukur gundul lagi kepalaku selain untuk buang sial, juga karena aku sudah tidak betah lagi dengan rambut ini dan udara panas tepi pantai ini.   

Pimpinan lembaga yang mempekerjakan aku, yang juga adalah seorang pendeta, datang mengunjungi, membawakan ikan kuah kegemaranku, dan sebelum pulang beliau mendoakan untuk kesehatanku, dan menyentuh bagian kakiku yang sakit itu. Kami berdoa bersama. Ya, mengapa tidak. Aku masih Kristen di KTP J Walaupun waktu pembuatan E-KTP akhir tahun lalu aku mau bilang ke petugas pembuat KTP bahwa agamaku Buddha, tapi tidak jadi karena ada ibuku di sebelahku yang waktu itu juga sedang mengurus E-KTPnya. Ah kasihan, nanti beliau sedih dan menangis melihat ulah anaknya ini.

Seorang teman kebetulan SMS dan menanyakan kabarku. Aku bilang, aku sedang tidak dalam keadaan baik. Aku minta dia dan teman-teman di sana mendoakan untuk kesehatanku. Mudah-mudahan mereka melakukannya. Karena aku pernah membaca bahwa doa bersama yang dilakukan dengan niat sungguh-sungguh bisa menghantarkan semacam enerji. Teman lain di Ambon minta aku datang ke tempatnya untuk membawa aku ke tabib. Aku rasa aku belum sanggup bepergian sejauh itu ke tempatnya.

Aku mulai mengirimkan SMS ke beberapa teman, menanyakan apakah mereka kenal dengan “orang pintar” yang bisa melihat keadaanku dari jauh. Seorang teman mengatakan dia tidak tahu bahwa aku percaya pada hal begitu-begituan. Tapi dia menyarankan aku menghubungi seorang teman lain yang mungkin tahu “orang pintar” yang kumaksud. Seorang teman lain di Jawa sarankan aku mandi dengan perasan jeruk purut sekalian ampas jeruknya dicemplung ke air mandi. Katanya itu untuk menolak bala. Dia juga berikan sebuah nomor penyembuh alternatif untuk kutelpon. Haduh, mau cari jeruk purut di mana dalam keadaan kaki pincang begini? Menelpon penyembuh alternatif itu pun aku harus keluar rumah dan mencari spot yang bagus untuk melakukan panggilan telpon. Tapi nanti kalau aku sudah bisa jalan, aku mau cari jeruk purut untuk mandi.   
  
Seorang kawan lama lain di Sulawesi menyarankan aku membawa-bawa bawang putih dan lima butir merica. Katanya yang aku alami itu mainannya orang-orang pedalaman. Dengan yakin dia bilang bahwa dua hari lagi pasti penyakit turun. Dia menelpon aku dan bilang aku harus berhati-hati. Aku bilang, aku harus berhati-hati seperti apa? Aku ini orangnya kan nggak suka berulah macem-macem, nggak genit, nggak banyak ngomong yang nggak perlu, lebih banyak memilih diam kalau tidak ada hal bermakna untuk disampaikan. Kalau ada yang naksir aku lalu mengguna-gunai aku, mestinya aku terbayang-bayang dirinya selama ini. Tapi tidak ada yang aku bayang-bayangkan selama ini. Aku hanya membayangkan kebebasanku setelah laporan selesai yang semestinya aku bisa nikmati dengan banyak jalan-jalan andaikan kedua kaki ini tidak pincang. Bawang putih ada di rumah, kawan, tapi butir merica itu akan aku cari di pasar kalau nanti kaki ini tidak pincang lagi. Ternyata kawan yang satu ini dikenal sebagai dukun sakti di sana. Waw, aku baru tahu.
  
Minggu depan aku berniat melakukan tes darah keseluruhan di laboratorium untuk mengetahui apakah secara medis memang aku bermasalah. Tidak, aku tidak mau pergi ke dokter lagi. Sakit di Ambon mahal sekali. Kalau ada lagi datang penyakit, aku mungkin akan menelpon penyembuh alternatif yang nomornya diberikan temanku yang juga menyarankan mandi jeruk purut itu. Apa sajalah yang masih mampu aku lakukan. Saat ini rasanya kakiku mulai sedikit membaik. Rasanya sudah tidak sesakit seperti enam hari yang lalu, walau masih sedikit pincang. Aku tentu tidak tahu mana dari semua pendekatan itu yang membuatku sedikit membaik. Atau memang sudah waktunya membaik. Aku tidak tahu pasti.    

Teman yang nyaris tak percaya bahwa aku percaya hal-hal superstitious seperti itu sekali lagi bertanya apakah aku yakin dengan segala penyembuhan-penyembuhan alternatif seperti itu. Aku menjawabnya: Semua cara akan aku tempuh. Dari yang alternatif, pendekatan agama, sampai pada penyembuhan formal-medis. Because I believe God is not a fanatic. S/he has many ways 


Please pray for me, and for those who work to heal others in their own ways 


AM-HU, 7 April 2012
Sondang Sidabutar.

4 komentar:

  1. You will be alright, girl. Hang on there.

    BalasHapus
  2. I am now. Already as strong as I had always been, but lazier....

    BalasHapus
  3. cerita kamu menarik On...... mungkin ada lagi yang harus di bagi!

    BalasHapus
  4. di ambon atau Maluku banyak hal sampai saat ini masih berbau mistis...

    BalasHapus