MENGANTAR DI PINTU RUANG BERCERMIN

Berbagi Cermin Hidup...

Adalah niatanku (dan mereka yang turut berkisah) untuk saling berbagi proses dan hasil perenungan hidup kami. Aku masih seorang pemula, dan pasti juga bukan perintis. Kita teruskan saja apa yang pernah dan masih menjadi baik.
Jika kau bisa menemukan cerminmu di kisah-kisah yang kuceritakan, aku ikut merasa senang. Jika tidak, berbagilah dengan orang-orang lain, karena mungkin seseorang yang lain bisa menemukan cerminnya di situ.
Mari berbagi cermin hidup.

Sabtu, 26 Mei 2012

TAJ MAHAL TERINDAH


Kau tersenyum lesu, nampak lelah. “Sebenarnya tidak empat belas tahun, tapi dua puluh tahun.” Kau mengajakku berhitung dari dua tahun awal hubungan kalian, lalu empat belas tahun masa penantian ditambah empat tahun hubungan kalian belakangan ini, sebelum akhirnya kandas.


Empat belas tahun saja sudah bikin aku terheran-heran, ini dua puluh tahun pula. Aku punya pertanyaan yang menggangguku, “Bagaimana bisa? Mengapa? Dan kenapa dia?”

Beberapa saat engkau terdiam, akhirnya kau menyerah, mengakui tidak mengetahui jawabannya dengan pasti.  

“Kau pasti tahu.” Aku tetap mendesak.

“Aku nggak tau.”

“Tapi kau semestinya tahu.”

Engkau diam, menatapi sepraimu, meratapi sesuatu.

Kau benar-benar tidak tahu atau tidak mau tahu? Waktu dulu kau bercerita tentang dia dan aku menanyakan apa keistimewaan dia yang membuatmu mau menunggu empat belas tahun, kau juga tidak tahu pasti. Semakin banyak kau bercerita tentang dia, semakin aku tidak tertarik untuk menemuinya untuk sekedar berkenalan. Bagiku, dia tidak istimewa. Tidak layak untukmu.

“Kenapa? Dia kan nggak worth it. Dan kau telah bertahan mencintainya sampai dua puluh tahun?”

Kau melamun. Lalu mengangkat bahu. Tetap mengaku tidak tahu. Aku gemas. Ingin menguak benih kesadaranmu yang kuyakin masih terkubur dan sebenarnya tinggal menunggu pertanyaan atau pancingan yang tepat saja.

“Sebenarnya, dia itu worth it, nggak?”

Selama empat tahun terakhir ini kau pacaran dengannya, kau terkadang heran sendiri mengapa mau bertahan mencintainya padahal kau tahu dia tidak membalas cintamu dengan sepadan. Alih-alih, dua bulan yang lalu dia akhirnya mengaku telah mendua selama ini. Dan konyolnya, walaupun dia sudah tahu jelas pandanganmu yang tegas menolak perselingkuhan dan poligami, lelaki sinting itu masih mau coba-coba minta kesediaanmu untuk tetap mau menikahinya, sementara dia ingin menikahi kau dan perempuan lainnya itu. Setelah engkau meledak di hadapannya, dia gencar membujuk kau kembali padanya dan dia janji akan meninggalkan perempuan lainnya itu. Engkau sempat tergoda. Kalian berdua sempat berdamai, tapi dia kemudian bertingkah sok cemburu nggak jelas gitu. Kau lelah, kau menyerah. Akhirnya kau merasa tidak dapat mempertahankan lagi, apa pun itu, entah cinta, entah khayalanmu sendiri.  

Mana bisa laki-laki macam begitu dipercaya? Kau sudah kuberi tanda-tanda. Tidak kulihat binar di matamu sewaktu kau dulu cerita bahwa setelah empat belas tahun penantianmu, akhirnya dia ‘kembali’ padamu. Seakan-akan kau tidak sedang jatuh cinta. Engkau hanya berharap dan berkeras hati untuk terus menghidupkan kenangan tentang dia walaupun pada kenyataannnya dia tidak semenawan khayalan Taj-Mahalmu. Jauh dari itu. Aku tahu kau keras kepala, teman. Aku tahu, karena kepalaku ini juga keras. Tapi untuk apa keras kepalamu itu? Apa kau pikir kau bertanggung jawab pada harapanmu dan khayalan cintamu itu? Kau bilang sendiri bahwa dia tidak mendukung mimpi-mimpimu dan tidak menunjukkan minat pada duniamu. Kalian tidak bisa bersepakat pada hal-hal yang paling mendasar. Kalian bersama, tapi tidak benar-benar bersama. Engkau sendirian memperjuangkan hubungan kalian. Dia pasif saja seperti anak kecil manja yang memanfaatkan cinta ibunya, yang menuduh berkali-kali ibunya tidak cukup menyayanginya. Dia bukan anak kecil, dan kau bukan ibunya. Dia bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Kau bertanggung jawab pada dirimu sendiri. Kita bisa berbagi tanggung jawab, tapi tidak bisa melemparnya seenaknya ke orang lain.    

Kau balik bertanya padaku,”Pernah nggak kamu menjumpai kejadian seperti ini? Ada nggak orang lain yang menceritakan kisahnya kepadamu yang seperti ini?”

Aku mencoba mengorek dan mengais bank data memoriku.

“Ada yang bertahan sampai lama, tapi itu karena layak. Sepadan. Pantas. Kalau pun tidak layak, biasanya tidak bertahan selama itu. Tidak sampai dua puluh tahun. Pada akhirnya mereka sadar cinta itu tidak sepadan. Atau mereka bertemu cinta lain yang lebih layak.”

Sebenarnya ada, sih. Yaaah, kebanyakan dari mereka adalah perempuan korban kekerasan yang sudah terlanjur terjerat dalam hubungan yang sialan itu. Mereka pada awalnya bisa melihat, lalu karena memilih untuk pura-pura tidak melihat, pandangan mereka mulai kabur, sampai akhirnya mereka benar-benar buta. Lalu orang-orang menamakannya cinta buta. Semestinya lebih tepat kalau dinamakan cinta bodoh, karena orang buta banyak yang pintar dan bijaksana. Kebutaan tidak membuat mereka bodoh, malahan mata kalbu mereka bisa melihat dengan lebih tajam daripada orang-orang yang bisa melihat dengan mata fisik mereka. Tapi semestinya kau sudah paham itu. Mungkin kau juga korban. Korban ketaklayakan. Mata kalbumu mestinya bisa melihat, tapi engkau dibodohi oleh imajinasi cintamu sendiri. Apa itu namanya? Cinta tak bersyarat? Ah, taik kucing dengan cinta tak bersyarat. Bahkan cinta Tuhan-pun bersyarat. Kau percaya kitab suci? Kau percaya surga dan neraka? Kalau kau percaya kitab suci, sebagian besar isinya adalah isyarat akan syarat. Tuhan memberikan ujian pada manusia. Lulus atau tidak lulus. Yang memenuhi syarat kelulusan akan masuk surga, yang lainnya masuk neraka. Aku yakin Tuhan juga mencintai diriNya sendiri dan Dia tidak membiarkan orang-orang memanfaatkan dan memanipulasi cinta-Nya. Dia tidak sebodoh itu.      

Kau pernah menceritakan masa lalumu padaku, kisah dari sejak kau kecil. Dan kuajukan pertanyaan ini.

“Adakah orang yang pernah mencintaimu seperti kau mencintai dia? Pernahkah ada orang yang mencintaimu dengan benar?”

Tidak, jawabmu. Tidak ada yang pernah mencintaimu ‘sebenar’ engkau mencintai dia. Bahkan tidak orang tuamu dan keluargamu sendiri. Tidak juga kekasih-kekasih di masa lalumu. Mereka malah memperlakukanmu dengan buruk, membalasmu dengan pengkhianatan. Tetes-tetes air mata jatuh, tak bersuara. Engkau beranjak mengambil tissue, mengeringkan air mata dan ingus.

“Jadi, mungkinkah mencintainya dengan benar selama dua puluh tahun ini adalah caramu untuk menunjukkan bahwa kau bisa mencintai dengan benar walaupun tidak ada orang yang bisa melakukannya padamu?” 

“Mungkin saja”. Jeda. “Iya, kayaknya begitu.”

Aku mengambil jedaku sejenak. Memberimu waktu untuk meresapi jawabanmu sendiri, memberimu ruang untuk memantapkan atau menolaknya.

“Mungkin ini adalah caramu membalas pada orang-orang itu. Menunjukkan bahwa kau bisa mencintai lebih baik daripada mereka  semua. Bahkan kau mampu mencintai laki-laki yang sebenarnya tidak layak untuk cintamu.”

Atau mungkin juga, karena tidak ada cinta yang bisa kau jadikan pegangan, kau ciptakan cintamu sendiri dan kau erat-erat pegang itu, supaya kau tak mati tenggelam sesak kehabisan nafas ke dalam ketiadaan cinta. Supaya kau bisa berdiri tegak di atas fondasi imajiner yang kau susun dari batu-batu kenanganmu sendiri daripada harus berdiri di atas sejarahmu yang kejam terhadapmu. Makanya kau bisa bertahan selama itu, karena kau belum melihat pilihan lain yang lebih baik daripada itu, karena matamu dikaburkan oleh kabut kenanganmu. Kau tetap berteguh, walaupun itu terasa menyakitkan dengan ketidakhadirannya di sisimu selama empat belas tahun.   

Diam yang lebih panjang. Aku mencari celah dan arah berikutnya. Pikiranku sibuk di dalam labirin benak, mencari pintu yang tepat. Kau membiarkanku dalam diamku. Kau salah satu temanku yang masih bisa merasa nyaman dengan diamku. Aku suka itu. Tapi saat ini kau sedang butuh aku, kehadiranku, menemanimu dalam laramu, walau hanya sebentar persinggahan di mungilnya kamarmu.

Ah, teman. Kalau saja cintamu itu kau kerahkan dulu untuk dirimu sendiri, betapa yang demikian itu akan memperkaya dan menguatkanmu. Aku ingin kau menyadarinya. Maka aku tak bisa diam saja.

“Mengertikah kau, jika kau mampu mencintai orang yang nggak worth it sebenar dan selama itu, maka sesungguhnya kau mampu mencintai dirimu sendiri dengan benar dan lebih lama lagi? Dua puluh tahun. Kau bisa melakukan lebih dari itu untuk dirimu sendiri. Dan kau sungguh layak untuk itu.”

Lebih dari separuh usiamu, teman. Tapi aku tahu itu tidak akan sia-sia kalau kau belajar darinya untuk bisa memulai mencintai dirimu sendiri. Sebab, jika tidak ada seorang pun yang bisa mencintaimu dengan benar, jika tidak ada seorang pun yang mampu bersikap adil padamu, maka setidaknya kau sendiri yang mencintai dirimu dengan benar dan kau sendiri yang bersikap adil pada dirimu. Jika demikian kejadiannya, maka kau bisa mengetahui apakah kekasih-kekasihmu yang berikutnya, atau siapa pun yang kau temui dalam hidupmu nanti, mampu mencintaimu dengan benar dan adil. Engkau tidak akan membiarkan orang lain menyia-nyiakanmu lagi. Dan kau tidak akan menyia-nyiakan dirimu, hidupmu, mimpimu. Tahukah kau, begitu banyak kujumpai orang-orang yang bermain-main dengan cinta, menganggap itu permainan belaka untuk membuat keasyikan dalam hidup mereka yang hambar dan hampa? Dan sesungguhnya mereka membenci diri mereka sendiri, tidak mengerti bagaimana mencintai orang lain karena mereka sendiri tak bisa mencintai diri sendiri. Betapa kau jauh lebih mulia. Kau tidak bermain-main dengan cintamu. Maka, pertahankanlah kekuatan cintamu. Itulah inti kekuatan hidupmu.  

“Iya, aku sadar. Memang tidak ada orang yang pernah mencintaiku kayak begini. Mungkin memang aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa mencintai lebih baik daripada mereka.”

Hening yang lama lagi. Musik riang pilihanmu yang tidak sesuai dengan atmosfir saat itu masih melatari percakapan kita.

“Tapi aku merasa hidupku berat sekali di saat-saat sedang sendiri dan sedang tidak ada yang kukerjakan. Atau di saat-saat yang biasanya aku habiskan waktu bersama dia.”

“Ya iya-lah. Kau kan hidup dengan rutinitas. Kalau ada satu saja rutinitasmu yang tercabut, pasti kau merasa terganggu. Apalagi kalau di saat itu kau sedang berada sendirian saja dan kosong. Tapi kau bisa menganggap perubahan ini sebagai kebebasanmu yang baru. Aku tahu sih, banyak orang yang tidak bisa menggunakan kebebasan ketika kebebasan itu datang pada mereka. Tapi kau bisa mencoba mengisinya sendiri. Kau bisa punya pilihan-pilihan lain yang selama ini tak sempat kau lakukan.”

Lalu kami bicara menggali hal-hal yang disukainya, yang bisa menjadi minatnya, tentang orang-orang baru yang bisa ditemuinya, tempat-tempat yang bisa dikunjunginya.

Tapi ingatlah, teman, walaupun kau mungkin akan merasa terhibur dengan hal-hal baru yang menyenangkanmu, masih ada satu kekosongan besar yang harus kau isi terlebih dahulu. Mencintai dirimu sendiri.

“Jadi, sekarang kau mau apa?”

“Aku mau fokus saja ke mimpiku. Aku sudah punya banyak rencana.”

“Terus, mantan-mu itu gimana?”

“Aku udah nggak bisa lagi kembali ke dia.”

Aku mengangguk-angguk. Mudah-mudahan kali ini kau bisa teguh. Seteguh keras kepalamu selama dua puluh tahun. Mudah-mudahan seteguh itu pula kau bisa merangkai jembatan ke mimpimu, mencintai dirimu sendiri, hidupmu.

“Aku boleh menulis tentang ini, ya?”

Kau tersenyum. “Dengan senang hati. Mungkin aku juga mau menulis dengan versiku sendiri.”

Aku senang. Aku selalu senang kalau ada temanku yang mau merekam jejak perenungannya sendiri.

Tapi aku tetap akan menulisnya, teman. Aku juga belajar dari cintamu. Aku menulis ini, agar kau tidak lupa untuk terus melihat dan bercermin, bahwa kau layak untuk Taj-Mahalmu sendiri yang paling indah...



AKB, 26 Mei 2012

Aku tidak bisa terus berada di sampingmu. Semoga tulisan ini bisa menjadi teman dalam perjalananmu dan kesendirianmu, kawan.
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar