MENGANTAR DI PINTU RUANG BERCERMIN

Berbagi Cermin Hidup...

Adalah niatanku (dan mereka yang turut berkisah) untuk saling berbagi proses dan hasil perenungan hidup kami. Aku masih seorang pemula, dan pasti juga bukan perintis. Kita teruskan saja apa yang pernah dan masih menjadi baik.
Jika kau bisa menemukan cerminmu di kisah-kisah yang kuceritakan, aku ikut merasa senang. Jika tidak, berbagilah dengan orang-orang lain, karena mungkin seseorang yang lain bisa menemukan cerminnya di situ.
Mari berbagi cermin hidup.

Minggu, 27 Mei 2012

KALAU CINTAMU TAK BERSYARAT



Apa pernyataan orang-orang yang mengaku cintanya tak bersyarat?
Apapun yang kau lakukan, aku tetap mencintaimu.

Karena aku mencintaimu, apa pun akan aku lakukan untukmu.
Walau kau tak mencintaimu, aku tetap akan terus mencintaimu sampai akhir hidupku.
Aku menerimamu apa adanya karena aku mencintaimu tanpa syarat.
Gunung akan kudaki, lautan akan kuseberangi.
Aku akan menjadi apa pun: ibumu, saudaramu, anakmu, temanmu, budakmu, isterimu, pelacurmu, karena aku mencintaimu.
Walau badai menerjang, aku tetap akan tetap mencintaimu sampai selamanya.
Tahi serasa coklat karena aku mencintaimu.
Demi cinta, aku rela membunuh.
Demi cinta juga, aku rela kau bunuh.

Begitukah? Dan dalam hidup ini cinta bersyarat diagung-agungkan oleh banyak orang. Well, aku tidak. Menurutku, cinta tak bersyarat adalah bodoh. Cinta tak bersyarat sangat rawan dimanipulasi, dieksploitasi dan membabi-buta. Untuk apa kita diberi otak kalau tidak dipakai juga untuk mencintai dengan cerdas? Untuk apa kita diberi spiritualitas kalau tidak untuk mencintai dengan bijaksana dan dewasa? Untuk apa kita diberi hati kalau bukan untuk menghayati kemuliaan cinta?

Kadang aku merasa marah dan mengutuk cinta para korban kekerasan karena cinta tak bersyarat mereka rela menanggung menjadi korban, sampai akhir hidup mereka. Marah karena melihat mimpi-mimpi mulia anak-anak kandas untuk melayani kemanjaan dan keegoisan kemauan orang tua mereka. Marah karena melihat banyak orang tetap rela miskin demi pengabdian tanpa syarat pada pemimpin mereka yang celaka. Ingin rasanya aku mengguncang-guncang mereka supaya tersadar dan bangun dari candu mimpi buruk mereka.

Hey, kamu. Siapa yang menanamkan ide bodoh tentang cinta tak bersyarat itu pada dirimu? Orang-orang yang cintanya penuh syarat? Agar kau mau-mau saja dibodohi dan ditipu oleh mereka agar kau berlaku seperti budak mereka? Atau apa? Rasa bersalahmu, penyesalanmu, atau rasa takutmu?
  
Aku percaya, bahkan Tuhan pun mencintai dengan syarat. Amat sangat banyak syarat, malah. Bukankah isi kitab suci banyak sekali syarat? Bila kau percaya surga itu ada, bukankah surga hanya untuk segelintir orang? Kalau kau percaya setan itu ada, untuk apa dia diciptakan kalau bukan untuk selalu memeriksa dan menguji cinta kita pada Tuhan? Mengapa bumi ini menjadi semakin tidak nyaman ditinggali? Bukankah karena kita harus menanggung ganjaran dari Sang Khalik Semesta?

Mencintalah. Namun, mencintalah dengan bijaksana. Dengan cerdas. Dengan dewasa. Dengan mulia. Dengan waspada. Dengan tujuan. Dengan manusiawi. Dengan ilahiah. Jika kau tidak bisa mencintai dengan semua sifat itu, salah satu atau beberapa sifat itu saja aku yakin kau bisa. Mencintailah dengan syarat. Demi kebijaksanaan, demi kecerdasan, demi kedewasaan, demi kemuliaan, demi kewaspadaan, demi tujuan, demi kemanusiaan, demi alam raya, demi Allah.  


AKB, 27 Mei 2012








Tidak ada komentar:

Posting Komentar