MENGANTAR DI PINTU RUANG BERCERMIN

Berbagi Cermin Hidup...

Adalah niatanku (dan mereka yang turut berkisah) untuk saling berbagi proses dan hasil perenungan hidup kami. Aku masih seorang pemula, dan pasti juga bukan perintis. Kita teruskan saja apa yang pernah dan masih menjadi baik.
Jika kau bisa menemukan cerminmu di kisah-kisah yang kuceritakan, aku ikut merasa senang. Jika tidak, berbagilah dengan orang-orang lain, karena mungkin seseorang yang lain bisa menemukan cerminnya di situ.
Mari berbagi cermin hidup.

Senin, 02 Juli 2012

KUBUNUH RINDU SAMPAI MATI



Mereka tidak percaya kalau aku tidak punya ruang untuk rasa rindu. Mereka bertanya padaku apakah aku tidak punya rasa rindu pada orang-orang yang kutinggalkan selama aku terus saja berjalan. 

“Nnnggg... Nggak,” jawabku singkat dan datar. Sebenarnya aku tidak lagi membutuhkan waktu untuk memikirkan jawaban itu.
“Kok bisa?”
“Karena aku sudah pernah membunuh rindu, sampai rindu mati,” kataku pada seorang teman. 
“Bagaimana bisa?” tanya mereka yang sudah pernah babak belur dianiaya rindu dan masih terus jadi korban penyiksaannya.

Aku berpikir. Mmmm, yah. Terus terang, kalau jawaban untuk pertanyaan mengapa, aku masih harus berpikir-pikir lagi karena aku belum sempat merenungi dan memahaminya. Sejak kapan aku sudah membunuh rindu sampai rindu mati? Dan bagaimana bisa?

Kalau kepada keluargaku sendiri, aku memang tidak rasakan rindu. Sedari dulu. Beberapa orang yang tidak bisa menerimanya, mencoba menasihatiku agar aku jangan seperti itu. Bahwa bagaimana pun aku harus merindukan mereka, merindukan pulang ke rumah mereka. Aku mengerutkan dahi, merasa aneh, jengah bahwa dalam soal-soal perasaan seperti begini, aku masih harus didikte oleh orang lain. Siapa ya mereka itu? Tidak tahu apa-apa tentang aku kok berlagak bijaksana sekali. Masak perasaan dinasihati. Dan aku pun malas melanjutkan percakapan dengan mereka.

Okeh, lanjut. Karena tidak merasakan rindu pada keluarga dan rumah, maka aku tidak merasakan dorongan harus mengusahakan sering pulang ke rumah orang tuaku. Bila sedang berada di Jakarta pun, kota tempat tinggal keluargaku, sekali-sekali saja aku sempatkan singgah ke rumah mereka. Tidak, aku tidak merasa bahwa aku harus terbebani dengan kewajiban untuk pulang walaupun kedua orang tuaku berkali-kali mencoba menimbulkan rasa bersalahku.

Mereka tidak tahu bahwa aku juga sudah pernah membunuh rasa bersalah. Mereka tidak tahu apa pun tentang aku...

Untuk teman-temanku, aku pun tak merasakan rindu. Duh, kepada teman yang kuanggap paling dekat pun, rindu nyaris tak pernah muncul. Yang tidak paham aku mungkin akan merasa tersinggung. Kalau ada yang melayangkan pesan singkat di telepon genggam atau via e-mail, meneriakkan rindu mereka padaku, aku biasanya hanya tersenyum atau tertawa cengengesan lalu bertanya kabar mereka. Lagipula, aku bukan orang yang jago berbasa-basi, yang bisa mengisi waktu sekedar bertukar kabar dengan ringannya kemudian memakai waktu lebih banyak lagi dengan percakapan tak berarah. Aku biasanya menghubungi mereka karena ada yang sedang kubutuhkan dari mereka dan ada yang harus kusampaikan pada mereka. Dengan sendirinya, aku juga tak menuntut seorang pun menghubungi aku kalau mereka sedang tidak butuh bantuanku atau sedang tidak harus menyampaikan sesuatu yang penting. Jarang sekali aku merasa tersinggung karena teman lama tak berkabar. Paling-paling aku hanya akan marah bila suatu saat aku mendapati bahwa ada orang-orang yang mengaku teman, mereka hanya datang untuk minta bantuanku dengan mengumbar janji mereka lalu memanipulasi aku dan kabur meninggalkan aku karena tahu mereka mengingkari janji mereka padaku. Tapi marahku tak lama. Sesudahnya aku hapus mereka dari ingatan pertemananku dan aku tak peduli lagi. Mereka hanya membuang enerjiku saja. Aku tak sudi ruang memoriku dikuasai oleh orang-orang seperti mereka.  

Perasaan rindu yang pernah seringkali membuatku paling merana adalah kepada para mantan pacar dan mantan gebetan. Tapi itu dulu, sebelum rindu kubunuh. Konon, keterpisahanku dengan mereka betul-betul membuat ruang di jantung dan hatiku ciut menyesakkan sampai terasa sakit, seperti dihimpit sesuatu yang punya massa berat dan kelam bernama rindu. Tidak hanya sekedar terbayang, tapi lambat laun aku mulai benar-benar bisa merasakan hantaman di ulu hatiku bila sedang dilanda gelombang rindu yang besar. Dalam keadaan seperti itu, kehadiran siapa pun yang lain tidak berarti bagiku. Hanya satu orang yang kuinginkan saat itu. Dan dia harus berada di situ. Saat itu juga. Tuntutan itu menderaku. Aku mendera kekasihku itu. Tanpa kami sadari, kami saling menyiksa diri sendiri dan satu sama lainnya. Kami saling mencandu, lalu tersiksa sendiri karena ketagihan dan tak mendapatkan obat peredam candu. Bila yang satu sedang merindu dan yang lainnya kebetulan sedang tak merindu (entah karena sedang sibuk dengan sesuatu atau alasan apa pun), maka yang merindu akan sakit hati sendiri dan menuduh pihak tak merindu sebagai yang tidak cukup mencintai. Kekanak-kanakan sekali...

Aku sangat tidak menyukai beban yang ditimbulkan dari rasa rindu itu. Aku membencinya. Aku benci rindu. Dia musuhku. Beban berlebih yang harus kuluruhkan kalau aku mau terus hidup dengan kewarasan relatif di dunia yang tidak waras ini. Aku ingin membunuhnya sampai mati. Dia memberati langkahku, membelenggu kakiku, membuat aku jadi seperti orang lemah yang tidak bebas. Dan aku menatap sengit dan dengan keras menegur rindu. Aku menyeringai, mengancamnya dan mengusirnya pergi.

Jelas sekali, aku tidak butuh kau. Tidak ada tempat untukmu. Tidak ada waktu untukmu. Habis kesabaranku. Kau hanya menyia-nyiakan dan menguras enerjiku. Engkau adalah sisi sial dari cintaku. Aku tidak butuh merindu untuk bisa mencinta. Aku tidak ingin engkau mencampur-adukkan dirimu dengan cinta. Jangan berani-berani kau menipuku, menyamarkan wajahmu dengan wajah cinta...

Tapi rindu keras kepala. Terlalu angkuh untuk mau patuh. Dia ingin terus berada di atas sana, merajaiku.

Kau pikir kau yang punya badan dan jiwa ini? Kalau pun kuijinkan kau berada di sini, bukan berarti kau lalu melumpuhkanku dan menindasku. Enak saja, kau tiba-tiba datang begitu saja dan ingin menguasaiku.  

Pada saat itu, aku punya perasaan lain yang punya kekuatan jauh lebih besar daripada rindu. Kekuatan yang sudah begitu akrab di dalam diriku sejak aku kecil, yaitu kekuatan perasaan marahku. Aku bisa merasakannya ketika rasa marah bangkit, merasa diusik, ditantang oleh rasa rindu yang rakus dan semena-mena itu. Di saat itu aku sudah sampai pada titik muak mengasihani diriku sendiri yang merindu kekasih yang berada jauh. Rasa marahku memandang melecehkan diriku sendiri yang tersungkur tak berdaya di sudut kamar sendirian, meratapi cinta selama berhari-hari. Dan aku pun malu pada diriku sendiri. Perasaan marahku membuatku tersadar, bahwa aku tidak boleh dilumpuhkan oleh rindu, bahwa aku harus merebut kembali kendali atas diriku sendiri.

Lalu kubunuh rindu. Kubunuh dengan rasa marah dan rasa muak akan sikap mengasihani diri sendiri. Kusimpan dalam peti mati tembus pandang bersama perasaan-perasaan lain yang sudah pernah kubunuh. Tapi bersamaan dengan matinya perasaan rinduku pada seseorang saat itu, mati pula rasa cintaku padanya. Aku tidak ingin berpanjang-panjang meratapi keduanya. Kukubur mereka bersama-sama. Kupandang sebentar saja, lalu aku berpaling pergi kembali ke hidupku. Menatap ke depan. Moving on...


************

Mencintai tanpa merindu...
Asing, memang. Rasanya seperti punya kekasih baru yang kuat, bijak, dewasa dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Seperti mencintai seorang kekasih yang baik aku maupun dia mampu menekuni pilihan hidup kami sendiri-sendiri, tak perlu saling tergantung, tak perlu saling memiliki, tak menuntut untuk saling melengkapi, sadar sepenuhnya bahwa kami harus bertanggung jawab pada hidup kami masing-masing, namun bersedia bekerja sama dalam hal-hal yang kami berdua sepakati. Seperti itulah aku mencintai rasa cintaku yang baru itu. Yang tanpa kehadiran pihak ketiga pun, kami berdua akan baik-baik saja...


TTN, 2 Juli 2012


  
   

       


3 komentar:

  1. Rindu adalah peristiwa yang pernah dialami yang ingin kita ulangi tidak selalu dengan manusia tapi lebih pada peristiwa yang membuat nyaman atau berkesan..

    contoh: dielus punggungnya waktu menjelang tidur,dipeluk dan didongengkan oleh ibumu.

    Bagaimana caranya?? kamu membunuh rindu jika sama ibumu/ peristiwa tersebut/ kasih tulus yang ada dalam persitiwa tersebut/ rasa nyaman dan damai dalam peluk seseorang yang dekat dengan kita.

    BalasHapus
  2. Kubunuh dia karena pada saat itu rindu itu bersifat kekanak-kanakan dan ingin menguasai sepenuhnya hidupku dan membuat aku tidak bisa melanjutkan hidupku. Bagaimana orang lain memperlakukan rasa rindu mereka adalah terserah pada pilihan masing-masing.

    BalasHapus
  3. oke..ditunggu tulisan yg lain..keep fight!

    BalasHapus