MENGANTAR DI PINTU RUANG BERCERMIN

Berbagi Cermin Hidup...

Adalah niatanku (dan mereka yang turut berkisah) untuk saling berbagi proses dan hasil perenungan hidup kami. Aku masih seorang pemula, dan pasti juga bukan perintis. Kita teruskan saja apa yang pernah dan masih menjadi baik.
Jika kau bisa menemukan cerminmu di kisah-kisah yang kuceritakan, aku ikut merasa senang. Jika tidak, berbagilah dengan orang-orang lain, karena mungkin seseorang yang lain bisa menemukan cerminnya di situ.
Mari berbagi cermin hidup.

Senin, 06 September 2010

HIDUP ITU PILIHAN, DAN AKU DAPAT MEMILIH...

Satu hal yang membuat aku mampu bersyukur dalam hidup ini adalah: aku memiliki banyak pilihan dan mampu menentukan pilihanku dengan cukup mandiri, bahkan kemudian menjalankannya, lebih dari kebanyakan orang. Dan aku cukup mampu untuk tidak menyesali apa pun pilihan yang pernah kupilih dan kujalani.



Berapa banyak sih orang yang bisa seberuntung itu? Berapa banyak orang yang akhirnya memilih untuk tetap tinggal di penjaranya sendiri-sendiri? Penjara kenyamanan, penjara kenikmatan, penjara kesakitan, penjara ketakberdayaan, penjara kasih sayang, penjara keluarga, apa pun namanya. Ada orang yang menyebutnya berhala. Berhala kenangan, berhala budaya, berhala agama, berhala komunal, dan seterusnya. Kamu sendiri, penjara macam apa yang kamu tinggali? Berhala macam apa yang kamu sembah?

Diawali dengan aku lahir bukan dengan pilihanku sendiri, setidaknya sejauh ingatan hidupku yang sekarang ini. Jaman dan tempat aku dilahirkan bukan pilihanku sendiri. Betapa aku muak akan jaman ini. Orang tuaku bukan pilihanku sendiri, saudara-saudaraku bukan pilihanku sendiri. Sukuku bukan pilihanku sendiri, namaku bukan pilihanku sendiri. Banyak lagi. Masa laluku banyak dimuati dengan pilihan-pilihan yang orang lain buat untukku. Dendam aku karena tidak mampu memilih. Kemuakan dan kemarahan turut kuseret-seret sebagai muatan berlebihku. Yah, sampai sekarang dendam-dendam itu masih terus kupupuk. Yang terakhir itu, pilihanku sendiri. Heeee….  Yah, bagaimanapun ada beberapa hal yang aku telah mampu berdamai dengan ketiadaan pilihan masa laluku.

Beberapa tahun ini aku makin pasti dalam menetapkan pilihan-pilihanku sendiri. Berapa hati yang sakit, berapa teman yang kutinggalkan tanpa kabar, berapa tempat yang kulewati. Berapa rumah kusinggahi yang para pemiliknya aku ucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk suatu kegiatan, berapa banyak energi yang kuhabiskan untuk lakukan sesuatu… terjadi sudah, karena pilihanku.

Dulu aku sempat punya prinsip hidup mengalir saja seperti air. Enak kan, gak usah mikir, gak usah bikin rencana, gak harus milih... Lalu aku menjalani waktu bersama beberapa orang yang punya prinsip hidup mengalir seperti ini, dan aku tidak setuju diriku jadi seperti itu. Ikut mengalir itu bukan hidup yang memilih dengan sadar, bebas dan bertanggung jawab!

Bayangkan air yang mengalir. Atau yang lebih buruk lagi, bayangkan suatu objek yang ikut mengalir bersama suatu aliran air. Air mengalir ditentukan arah dan kecepatannya paling tidak oleh perbedaan ketinggian, berat jenisnya, massanya, angin, daya gravitasi, saluran yang dilaluinya. Air mengalir saja ikut itu semua tanpa dia boleh memilih sendiri. Dan objek yang ikut mengalir bersama air hanya menambah satu lagi variabel ketergantungannya dibanding air yang mengalir, yaitu air yang menjadi medianya, yang mengalir tanpa dia bisa memilih. Ketika ada percabangan, maka air juga tidak memilih mau ambil cabang yang mana. Lebih menyedihkan lagi, si benda yang terbawa air bisa saja nyangkut entah di mana dan entah untuk berapa lama.

Orang-orang yang berprinsip ikut ngalir ini juga sebenarnya berbohong, atau tidak sadar bahwa mereka tidak hidup dengan mengalir. Mereka pun sebenarnya punya pilihan dan kadang-kadang menentukan pilihannya sendiri. Masakan kalau dia menyetir motor atau sepeda dia mau ikut saja arus lalu lintas yang lebih deras? Masakan kalau dia naksir lebih dari satu orang pada saat bersamaan dia tidak memilih dan berstrategi kapan, di mana dan bagaimana dia bisa bertemu orang-orang pujaan hatinya itu?

Hidup yang penuh dengan tekad membaja, memastikan rencana yang setengah mati detil dijalankan dan cenderung memaksakan diri juga bukan pilihanku. Karena orang-orang seperti ini biasanya juga akan memaksa orang lain hidup sebagaimana pilihan dan caranya. Bagiku, orang yang ngalir dan orang yang ngotot sama-sama punya dunia autis-nya sendiri-sendiri. Dua orang kayak gini kalau ketemu hampir bisa dipastikan jadinya: yang satu setengah mati berlari menghindar, yang lainnya tanpa lelah mengejar-ngejar.

Sekarang, bayangkan perenang yang handal. Dia tahu tujuannya. Dia menggunakan aliran air untuk membantunya mencapai tujuannya, tanpa mencederai air itu sendiri. Dia bahkan mampu memanfaatkan angin, melawan gaya gravitasi, dan… memilih cabang mana yang dia ambil bila menemukannya. Bila air cukup tenang dan dia lelah, dia cukup mengambang telentang dan beristirahat sejenak. Dia juga tahu kapan saatnya keluar dari air. Untuk itu dia harus mulai mengenal air yang menampungnya, merasakan berapa deras arus mendorong atau melawannya, menentukan ke mana angin berhembus, dan mengenal kekuatannya sendiri. Dan tetap tanpa mencederai apa pun. Tidak cedera dalam artian bahwa bahkan dalam keadaan tanpa pilihan pun, air dan lain-lainnya itu tetap menempuh jalan hidupnya masing-masing. Tapi si perenang juga harus memilih untuk meninggalkan apa yang ada di belakangnya, kecuali bila dia sadar dia salah arah dan memilih arah balik. Atau dia perenang yang berenang bolak-balik di kolam renang. Tapi mengerti kan, apa yang kumaksud? Kalau tidak, mungkin kamu perlu keluar dari penjaramu, tinggalkan berhalamu dan mulailah belajar berenang.

Aku punya sebuah mimpi akhir. Kurencanakan suatu saat menghabiskan hidupku di suatu tempat melakukan sesuatu. Sewaktu ‘berenang’ untuk mencapainya, aku memilih bermain-main sebentar di air yang mengalir, berkelok dan bercabang. Tapi aku harus tetap berenang untuk pada akhirnya mencapai mimpi akhirku itu. Kadang aku mengambang di air, melihat dari permukaannya ke pemandangan yang terhampar di bawah maupun di atasnya. Kadang bila sesuatu di dalam air menarik untuk diamati lebih jauh, aku menyelam. Aku harus tetap memperkirakan batas maksimal persediaan nafasku sewaktu menyelam itu, atau aku akan keracunan zat asam. Kalau masih ingin lihat lagi, ya menyelam lagi… Banyak pemandangan ikan yang cantik dan karang yang indah. Lalu kulanjutkan perjalanan, sambil tetap memastikan aku tidak kehilangan arah dan tersesat. Satu dua badai pernah melukaiku parah mengantarku ke arah ajal. Beberapa arus deras pernah menghempaskanku. Aku juga pernah dipatuk beberapa ular air yang berwarna sangat menarik dan menjanjikan. Beberapa ular mampu kuhindari karena aku berhasil belajar dari pengalaman. Akan suatu sebab, aku pernah panik dan menelan air, terbatuk-batuk dan harus mengambang agak lama untuk memulihkan nafas dan ketenanganku. Namun aku tetap berenang, kawan…

Walau bagaimana, ada kejadian-kejadian yang sewaktu-waktu membuatku sedih dan terpukul. Aku seringkali menemukan bahwa aku berenang sendirian.… Memang seringkali aku menemukan perenang-perenang lain, tapi arah dan tujuan kami berbeda. Lebih menyedihkan lagi, sering kutemukan mayat-mayat yang mengambang tak berdaya di atas air. Atau aku menemukan perenang yang tersesat dan kelelahan, namun aku pun tidak mampu menunjukkan padanya arah yang dia mau tuju, atau aku tahu tujuannya tapi dia tidak mendengarku. Aku melihat sekumpulan orang berenang bersama ke arah yang aku tahu pasti balik menuju penjara dan berhala, tapi mata dan telinga mereka ditutup sehingga mereka tidak sadar apa yang mereka tuju.

Kadang aku bertemu orang berenang yang sementara bersamaan arah denganku tapi karena beda tujuan kami harus berpisah tengah jalan. Aku membayangkan pasti rasanya senang sekali berenang ditemani orang lain yang memiliki tujuan yang sama denganku, dan kita berenang bersama, saling menguatkan dan menghibur, sampai akhir. Namun sampai saat ini aku bersikukuh untuk tidak tergoda berenang mengikuti orang lain ke tujuan akhirnya, walau rasa kesepian kadang begitu kuatnya. Hanya bila aku tahu benar bahwa air yang membawaku pasti ke arah yang kutuju dan aku tidak sedang diburu-buru, aku baru boleh mengalir bersama air.

Yang kupilih? Aku memilih mimpiku sendiri dan bukan mimpi orang-orang lain, walau itu orang yang melahirkanku sendiri. Aku memilih untuk meninggalkan penjara dan berhala-berhala itu. Aku memilih untuk tidak berkecil hati, walau kawan tiada jua hadir aku tetap tuju mimpiku. Aku memilih untuk tetap mengasihi bumi ini walau dia laju menuju dengan pasti kehancurannya (Oooh, betapa banyaknya dan makin banyaknya pasang tangan yang rakus mencabik-cabik bumiku tercinta ini). Aku memilih untuk tidak menghadirkan manusia baru yang tidak bisa memilih kenapa, di mana, kapan dia hadir di bumi ini, dan tidak pasti apakah dia akan berbahagia atau menderita saja di jamannya. Aku memilih untuk mengawani mereka yang telah terlanjur hadir di dunia ini membukakan lebih banyak pilihan di hidupnya. Aku memilih meninggalkan cinta dan kenangan cinta yang tak sepadan. Aku memilih meninggalkan banyak kenikmatan-kenyamanan yang sia-sia, membatasi diri terlena dalam serba berkecukupan. Aku memilih untuk merasa malu bila mendapati diriku berkelebihan memanjakan diriku. Aku memilih untuk tidak mengkhianati hati orang-orang yang berharap pada kesetiaan pasangan hidup mereka. Aku memilih untuk tidak menyesali pilihan-pilihan yang pernah kubuat, betapa pun pernah salah dan kelirunya itu. Aku memilih dendam mana yang kubawa serta untuk menambah kekuatanku maju. Aku memilih untuk terus maju dan tidak terseret-seret masa laluku. Aku memilih untuk mengacuhkan rasa takut walau dia hadir, namun aku memilih untuk tetap berhati-hati dan waspada. Aku memilih untuk tidak pernah merasa puas dan terhanyut oleh kebahagiaan. Betapa pun memuakkannya jaman ini, aku memilih untuk menghargai hidup dan pada saat bersamaan untuk tidak gentar pada kematian.

Kau tidak tahu, kawan, sebenarnya betapa sakit pilihan-pilihanku itu? Betapa banyak bagian dari diriku, hasratku, keinginanku, kealamianku, yang harus kusangkal, harus kukalahkan. Begitu bertentangannya aku dengan arus besar yang ada. Aku tidak penuh memahami dari mana saja kekuatan itu datang untuk aku tak membabi buta terseret. Ketika aku memandang diriku ke dalam cermin dan aku dapat mengatakan pada diriku: “kamu telah membuat pilihan yang benar”, maka aku lanjutkan hidupku dengan perasaan lega dan mantap. Tapi saat-saat aku bahkan malu melihat diriku di cermin itu, aku tahu aku harus merubah sesuatu dan membuat pilihan baru. Aku mengenali keresahan-keresahanku sebagai pertanda sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang kupilih. Selanjutnya aku harus mencari tahu apa itu dan memutuskan mau apa aku selanjutnya. Aku tidak tertipu oleh perasaan nyaman yang hanya mengelabuiku berselingkuh dari mimpiku.

Aku ingin berterima kasih. Terima kasih pada orang tua yang telah membuatku hadir di dunia ini, walau tanpa aku boleh memilihnya. Terima kasih teman-teman yang telah kutinggalkan, para pemilik rumah tempatku sempat berlindung, untuk mereka yang berprinsip hidup mengalir maupun yang bersikeras membuat arus derasnya sendiri. Terima kasih untuk para perenang yang kujumpai sepanjang larungku: untuk yang sesat kehilangan arah, untuk yang telah tuntas hidupnya di tengah perjalanan, untuk yang berenang ramai-ramai menuju pusaran arus yang akan menarik mereka ke bawah, juga untuk yang sempat menemaniku sejenak di arungku. Terima kasih untuk pemandangan yang indah, ikan cantik dan karang yang luar biasa eloknya. Terima kasih juga untuk badai dan arus deras yang mengajarku untuk berjuang sekuat tenaga dan mensyukuri hidup seusainya. Walau ular sempat memagut, tapi keindahan kalian yang sempat memesonakan cukup menghibur dan mewarnai kehidupanku, yang tak sempat mematuk cukup kunikmati pesonanya dari jauh saja…. Juga, terima kasih pada kesepian yang sekali waktu datang menjengukku, memampukan aku menghargai waktu-waktu bersama orang-orang yang kukasihi. Semuanya, telah mengajarkan aku bahwa hidup itu adalah pilihan, dan aku pun memilih. I swim for life, I swim toward my dream…



Depok, 26 Juni 2008.
Sondang Sidabutar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar