MENGANTAR DI PINTU RUANG BERCERMIN

Berbagi Cermin Hidup...

Adalah niatanku (dan mereka yang turut berkisah) untuk saling berbagi proses dan hasil perenungan hidup kami. Aku masih seorang pemula, dan pasti juga bukan perintis. Kita teruskan saja apa yang pernah dan masih menjadi baik.
Jika kau bisa menemukan cerminmu di kisah-kisah yang kuceritakan, aku ikut merasa senang. Jika tidak, berbagilah dengan orang-orang lain, karena mungkin seseorang yang lain bisa menemukan cerminnya di situ.
Mari berbagi cermin hidup.

Senin, 30 Januari 2012

MENUAI SENJA: KRISIS PARUH BAYA, KRISIS SISA HIDUP (MID-LIFE CRISIS)

Mereka Yang Ada di Masa Antara

Seorang lelaki berusia paruh baya merasa tidak bahagia. Setelah sekian lama berperan sebagai orang yang mengabdikan seluruh hidup dan dirinya untuk orang lain, dia merasa kinilah saatnya dia mengejar pengharapannya sendiri. Dia mulai menyesali dirinya yang terjerat dalam tujuan-demi tujuan yang orang-orang lain tuntut atas dirinya, atas semua kebutuhan keluarganya yang seakan tak ada putus-putusnya. Dia tidak bisa memahami mengapa semua perasaan dan pikiran ini tiba-tiba muncul dan menghantuinya, dan dia tidak bisa mengabaikannya.


Segala sesuatu dalam hidupnya yang dulu, tidak lagi membuatnya tertarik apalagi bahagia. Dia merasa haus akan petualangan baru dalam hidupnya, untuk menebus tahun-tahun kehilangan itu. Ada seorang gadis muda yang baru masuk kantornya. Dia cantik dan ramah. Nampaknya bisa didekati. Ah, memikirkan tentang dia saja rasanya hidup ini lebih segar. ‘Aku harus merubah penampilanku untuk menarik perhatiannya. Siapa bilang lelaki tua ini tidak bisa punya semangat dan jiwa muda?’ pikir lelaki itu. Dan dia pun mulai mencoba menutupi kebotakan di kepalanya dengan wig baru, belanja baju-baju mahal baru, parfum segar dan sportif, beberapa perhiasan emas. Tidak cukup itu semua, mobil lama yang sudah ketinggalan jaman itu pun diganti yang baru dengan warna mencolok.

Ketika istrinya bertanya-tanya tentang semua perubahan itu, si lelaki menjadi jengkel. ‘Aku tidak mencintai perempuan ini. Mengapa pula dulu aku menikahinya? Lihat saja, dia tidak bisa memahami aku, tidak memahami keinginan-keinginanku sendiri. Semuanya harus sesuai dengan keinginannya. Percuma saja aku menjelaskan, dia tidak akan mengerti. Semua pertanyaan ini, membuatku kehilangan kesabaran. Rumah ini membuatku gerah. Aku harus keluar mencari udara segar. Udara baru. Sekarang adalah waktu-KU, cara-KU, mau-KU. Persetan dengan semua orang!’

Seorang perempuan paruh baya, ibu rumah tangga, baru saja mengantar anak bungsunya menempati tempat kost-nya yang baru untuk masuk kuliah. Dalam perjalanan pulang, dia menangis karena menyadari akan pulang ke rumah yang kosong. Suaminya akan selalu sibuk bekerja, seperti biasa. Tidak ada lagi anak-anak untuk diurusnya di rumah. Apa yang mau dilakukannya dengan segala kekosongan ini? Selama ini semuanya diabdikannya untuk keluarganya, untuk anak-anaknya. Sekarang tidak ada lagi orang yang membutuhkannya. Bagaimana dia bisa mengatasi perasaan kesepian dan ditinggalkan ini? Mencari pekerjaan? Siapa yang mau menerima perempuan ibu rumah tangga usia paruh baya tanpa ketrampilan seperti dirinya? Semua kesempatan diambil oleh mereka yang lebih muda, berpengalaman, pintar, kuat dan gesit.

Di rumah kegalauan terus mengikutinya. Hidup seakan tanpa tujuan, tanpa makna. Kala berdiri lama di depan cermin, dia mengamati kerutan di kulit, helai-helai rambut putih di kepalanya, bentuk tubuhnya yang sudah tidak menarik lagi. Dan kesedihan pun tambah menyeretnya tenggelam dalam-dalam.

Suatu ketika dia mendorong dirinya sendiri datang menghadiri undangan reuni bersama teman-temannya semasa kuliah dulu. Bukannya memberi kesenangan, dia menyesali kedatangannya ke acara itu. Nampaknya semua teman-temannya berhasil dan memiliki karir yang cemerlang. Begitu malu rasanya bila membandingkan dirinya dengan mereka semua. Begitu tidak ada apa-apanya. Ke mana perginya tahun-tahun yang berlalu itu? Mengapa tidak sedari dulu dia bekerja saja seperti mereka? Sekarang apa jadinya dirinya? Mau ke mana dia setelah ini? Dengan kegalauan yang selalu menguntit, tidur menjadi sulit baginya. Apa boleh buat, diam-diam dia mencoba obat-obat penenang untuk bisa sekedar tidur tenang. Dan tiada hari berlalu tanpa obat-obat itu. 

Setelah saudara yang disayanginya meninggal, seorang lelaki paruh baya memasuki masa krisisnya. Kematian saudaranya membawanya pada kesadaran bahwa kematiannya sendiri mungkin tak lama lagi akan datang. Mimpi-mimpi masa mudanya dulu datang menghampiri ingatannya, yang sudah tak mungkin lagi dia raih saat ini dengan sisa waktunya. Waktu tidak bisa diputar balik. Baginya sungguh menyakitkan merasakan semua penyesalan ini, penyesalan akan jalan-jalan yang tidak dipilihnya di masa lalu. Dia merasa tidak pernah benar-benar hidup. 

Dia menjadi mudah tersinggung, cepat marah dan sering mengeluarkan komentar-komentar yang tidak masuk akal. Tanpa memberitahu siapa pun, dia pergi dari rumah, menghabiskan sejumlah besar uang yang tidak dimilikinya, membeli barang-barang yang tidak akan mungkin terlintas dalam pikirannya untuk dibeli jika itu dua tahun yang lalu. Pulang ke rumah, hanyut dalam depresi, berbulan-bulan tidak melakukan apa pun selain pergi ke tempat kerja. Selain itu, kerjanya hanya menonton TV berjam-jam dan tertidur di sofa di depan TV. Tidak bercukur, malas mandi dan penampilannya pun tambah tak keruan. 

Kepada istrinya dia mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik lagi pada apa pun, bahkan tidak juga kepada perempuan mana pun, termasuk kepada istrinya sendiri. Dia mengatakan bahwa dia memutuskan untuk menjadi penyendiri. Dan betapa, kalimat ini keluar dari mulut seorang laki-laki yang sebelumnya selalu menjadi pusat keceriaan dalam pesta-pesta dan temannya semua orang.  


Derita Mereka Yang Berada di Sekitar

Sesusah perasaan mereka yang mengalami krisis paruh baya, susah juga perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sama-sama susah, apa-apa jadi susah. Yang lagi krisis merasa susah karena krisis yang dialaminya, yang di sekitarnya susah karena menghadapi perilaku si orang yang sedang krisis itu.

“Masalahnya, apa pun yang saya coba lakukan untuk menyelamatkan pernikahan kami, dia akan menampik semua itu dan mengatakan bahwa dia tidak ingin diatur-atur lagi. Dia menjadi orang yang tidak saya kenal lagi. Aku merasa aku sendirian memperjuangkan semua ini”, keluh seorang perempuan dengan suami dalam krisis paruh baya.

Dengan sikap pasangan yang seperti itu, perempuan tersebut berada dalam suatu situasi yang tidak akan mungkin dimenangkannya. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk merubah si suami karena dia memang tidak mau berubah. Kalau dikejar, dia akan menghardik agar ditinggalkan sendirian. Kalau dibiarkan saja, dia akan bilang bahwa tidak ada orang yang peduli padanya, dst, dst. Mirip kelakuan seorang ABG, seorang dengan krisis paruh baya seperti itu menginginkan segala sesuatu seperti yang diinginkannya dan menunjukkan perlawanan pada siapa pun yang dianggapnya sebagai penghalang pemenuhan segera kesenangan-kesenangannya.

Jangan dikira bahwa anak-anak tidak akan merasakan bahwa ada yang salah yang sedang terjadi di dalam keluarganya. Mereka akan merasakannya dan melihat dari cekcok antara orang tua mereka dan masa diam-diam yang bertahan lama. Anak-anak menduga-duga bahwa mereka-lah penyebab ketegangan hubungan di antara kedua orang tua mereka. Mereka mengira mereka bertanggung jawab untuk itu.

Aku mengingat suatu kisah lama seorang teman lama yang aku duga ayahnya mungkin gagal menghadapi krisis paruh bayanya. Ibu mereka harus menjadi pencari nafkah utama dan tunggal untuk keluarganya karena si ayah enggan bekerja kalau tidak sesuai dengan gengsinya. Si ayah tidak memperlihatkan kepeduliannya sama sekali pada anak-anaknya. Tidak hanya itu, dia juga sangat sering pergi berhari-hari dari rumah tidak jelas apa yang dikerjakannya dan pulang ke rumah hanya untuk meminta uang dari istrinya yang sudah berusaha mati-matian menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran keluarga. Terdengar kabar bahwa si ayah terlibat perselingkuhan dengan beberapa perempuan muda. Betapa buruknya teladan yang diberikannya sebagai suami dan ayah. Di penghujung hidupnya yang sekian lama telah menjadi sumber penderitaan keluarga, dia meminta maaf kepada istri dan anak-anaknya. Lalu mati. Tanpa kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya selain permintaan maaf di pembaringan mautnya. Siapakah yang mampu memaafkannya?  Kalau aku jadi si anak, aku belum tentu akan bersedia. Tidak semudah itu.


Paruh Baya: Meninggalkan Masa Muda, Menyongsong Masa Lansia

Masa paruh baya adalah sekitar usia 40-60 tahun. Ada yang menyebut paruh baya sebagai “masa dewasa kedua” di mana katanya kita punya kesempatan kedua untuk mengejar figur diri yang kita impikan selama ini, diri yang semestinya. Tapi, paruh baya memiliki zona bahayanya sendiri. Bahaya itu populer disebut dengan krisis paruh baya, sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali oleh Elliot Jaques dalam konteks masyarakat Barat untuk menggambarkan sebuah periode dalam kehidupan di mana seseorang secara dramatis mengalami keraguan diri dan kegalauan di usia paruh bayanya, sebagai akibat dari perasaan bahwa masa mudanya telah berakhir dan begitu dekatnya masa lansia menghampiri.

Krisis paruh baya bisa disebabkan oleh transisi yang terjadi di rentang masa ini seperti andropause atau menopause, kematian orang tua atau penyebab-penyebab kedukaan lainnya, kondisi tidak bekerja atau kurangnya lapangan kerja, kesadaran seseorang bahwa dirinya membenci karirnya tapi tidak tahu bagaimana mencari karir lain, kondisi anak-anak yang sudah dewasa dan meninggalkan rumah orang tua atau kondisi tidak memiliki anak, atau perubahan fisik karena penuaan. Krisis paruh baya bisa membuat seseorang berhasrat untuk membuat perubahan besar dalam hidupnya seperti merubah pilihan karir atau merubah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Krisis paruh baya sering menjadi kambing hitam kenapa banyak orang punya masalah perselingkuhan. Rata-rata usia krisis paruh baya adalah di usia 46 tahun. Pada laki-laki krisis bertahan selama 3-10 tahun, sedangkan pada perempuan 2-5 tahun.      

Mereka yang mengalami krisis paruh baya memiliki beberapa perasaan seperti:
•    Pencarian akan mimpi atau tujuan hidup yang tak terjelaskan
•    Perasaan menyesal yang mendalam akan tujuan-tujuan yang tak tercapai
•    Takut merasa malu jika berada di antara rekan-rekan lain yang lebih berhasil/sukses
•    Keinginan untuk merasa muda lagi
•    Kebutuhan untuk menghabiskan waktu sendirian atau dengan rekan-rekan sebaya tertentu
•    Ketidakbahagiaan akan hidupnya dan akan gaya hidup yang bertahun-tahun sebelumnya sempat menjadi  sumber kebahagiaan
•    Kebosanan terhadap orang-orang dan hal-hal yang sebelumnya dianggap menarik
•    Perasaan ingin melakoni petualangan hidup atau melakukan perubahan-perubahan
•    Mempertanyakan pilihan dan keputusan yang sudah diambil di tahun-tahun sebelumnya dalam hidup
•    Kebingungan tentang siapa dirinya dan ke mana arah hidup yang akan dituju
•    Marah pada pasangan dan menyalahkan pasangan akan perasaan terikat/terbelenggu
•    Tidak mampu membuat keputusan ke mana arah hidup yang mau dituju
•    Meragukan bahwa mereka pernah mencintai pasangan mereka dan merasa marah pada perkawinannya
•    Hasrat akan hubungan intim yang baru dan bergairah

Sedangkan perilakunya menunjukkan:
•    Penyalahgunaan alkohol dan obat
•    Melakukan/membeli/mendapatkan hal-hal/barang-barang tidak biasa yang mahal seperti sepeda motor, baju, perhiasan, mobil sport, perlengkapan (gadgets), tato, tindik, dll.
•    Depresi
•    Menyalahkan diri sendiri atas kegagalan diri
•    Memberi perhatian khusus pada penampilan seperti menutupi kebotakan, memakai pakaian untuk anak muda, dll.
•    Menjalin hubungan dengan orang-orang yang lebih muda (hubungan seksual, hubungan profesional, hubungan seperti orang tua dengan anak, dll)
•    Memaksakan anak-anak mereka (yang dapat merugikan secara psikologis) untuk berprestasi di bidang-bidang tertentu seperti olahraga, seni atau pendidikan.

Erik Erikson berpendapat bahwa di tahap ketujuh perkembangan manusia, yaitu pertengahan kedewasaan (middle adulthood), manusia berjuang untuk mencari makna dan tujuan baru untuk hidup mereka. Dalam hal mempertanyakan segala hal berkaitan dengan diri dan kehidupan, Erik percaya, dapat mengarah pada krisis paruh baya.

Kalau di Barat sana, ketika perempuan tiba pada masa ini, banyak dari mereka menjadi individu yang lebih mandiri dan memulai lagi sekolah-pendidikannya, karir baru, dll. Ini terkait dengan kebutuhan akan “aktualisasi diri” yang telah tertunda sekian lama. Sebaliknya, laki-laki, mulai merasakan kebutuhan yang lebih besar untuk pengasuhan (nurturing) dan menginginkan seseorang yang siap mendampinginya, yang membuatnya merasa “istimewa” dan “dibutuhkan”. Sehingga, laki-laki seringkali mengalami ketertarikan dengan perempuan lebih muda dengan tingkat perkembangan emosi yang setara dengannya.

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan pada masa paruh baya Ini yang dinamakan dengan “persilangan jalan”, sebuah proses yang dapat terjadi dalam sebuah kehidupan perkawinan. Di mana di tahun-tahun awal pernikahan si laki-laki  biasanya banyak berada di luar rumah untuk menopang keluarganya dan bekerja, bekerja, bekerja. Sedangkan si istri yang biasanya dikenakan tanggung jawab mengurus keluarga dan rumah, yang seringkali juga bisa jadi si istri juga bekerja penuh waktu. Laki-laki, sewaktu memasuki masa paruh baya, merasa lelah mencoba menaklukan dunia dan mulai merasakan kebutuhan akan “dukungan, kepekaan dan penghargaan.” Dan mereka pun mengharapkan bahwa di rumah dia bisa mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Sementara perempuan, pada tahapan ini, sudah lelah dengan urusan rumah dan merasakan keinginan yang kuat untuk berada di luar sana dan mencoba memenuhi sebagian mimpi yang pernah dimilikinya yang dulu harus mengalah demi keluarga. Sehingga, terjadilah persilangan jalan. Ada pasangan yang bisa mengatur kebutuhan mereka yang berbeda ini, ada yang tidak bisa. Tergantung, apakah keduanya masih saling mencintai atau tidak, dan juga apakah keduanya masih merasa ‘nyambung’ atau tidak.

Beberapa kajian menunjukkan bahwa beberapa kebudayaan tertentu lebih sensitif terhadap fenomena krisis paruh baya ini daripada kebudayaan lainnya. Satu di antaranya menemukan bahwa sedikit saja bukti adanya krisis paruh baya di dalam kehidupan mereka yang ada dan hidup dalam kebudayaan Jepang dan di India. Mungkin saja, budaya orang muda di masyarakat Barat yang bikin populer konsep krisis paruh baya ini. Lalu bagaimana bisa terbentuk konsep krisis paruh baya di dunia Barat?

“Siapa bilang kita tidak bisa memiliki semuanya?” Konon adalah sebuah fenomena materialisme di Amerika pada tahun-tahun 1980-an. Dekade berikutnya, yaitu tahun 1990-an, yang berlawanan dengan dekade sebelumnya, fenomenanya bersifat lebih altruis. Konsumerisme menunjukkan penurunan dan kegiatan beramal meningkat, sedangkan nilai-nilai keluarga lebih mendapat fokus dalam kehidupan masyarakat. Waktu, sebagaimana juga dengan uang, menjadi semacam sumber materialisme juga. Diduga bahwa materialisme di tahun 1990-an terlihat perwujudannya dalam ketatnya agenda dan kesibukan orang-orang. Slogan berganti menjadi: “Siapa bilang kita tidak bisa melakukan semuanya?” Waktu, seperti halnya uang, adalah sumber daya yang terbatas. Mereka yang terlalu sibuk karena ingin melakukan semua hal di tahun 90-an akan berakhir seperti dalam kondisi mereka yang ingin memiliki segalanya di tahun 80-an: terbelenggu dan miskin. Bila di tahun 80-an orang-orang terlalu terikat pada materi sekaligus menghamburkan dan banyak kehilangan materi, maka tahun 90-an mereka terlalu terikat pada kesibukan dan menghamburkan, sekaligus kehilangan, enerji, kreativitas dan kebijaksanaan.

Apa kaitannya konsep krisis paruh baya dengan perubahan fenomena di kedua dekade tersebut? Ada yang menyampaikan penjelasannya seperti ini: Kita hidup dalam masa di mana kita harus belajar untuk mengatakan “tidak” meski pada yang hal-hal yang baik sekalipun agar kita bisa mengatakan “ya” pada hal-hal yang terbaik. Banyak alasan untuk bekerja sukarela memang baik, namun mengatakan “ya” pada semua kerja sukarela akan berarti bahwa tidak ada yang dikerjakan dengan hasil yang terbaik. Dengan menggunakan nilai-nilai pribadi kita sendiri, kita harus memutuskan hal-hal mana saja yang terbaik untuk kita pilih, dan mengatakan “tidak” (untuk sementara ini) pada hal-hal lainnya. 

Jika kita bernafsu untuk melakukan semua hal dan meraih banyak hal, kita harus membayarnya dengan harga mahal. Bahkan anak-anak yang terlalu banyak diikutkan kegiatan luar sekolah akan kehilangan kreativitas mereka yang murni. Orang dewasa, yang tidak punya waktu untuk rileks dan kontemplasi diri akan kehilangan kemampuan yang disebut oleh Martin Luther King Jr. sebagai “memikirkan pemikiran yang panjang”. Pencerahan paling mendalam di kehidupan kita datang dalam masa-masa menyendiri dan hening. Pencerahan tidak akan kita dapatkan jika kita terus berada dalam orbit materialisme. Kekecewaan-kekecewaan dalam hidup terjadi karena kegagalan, dan kekecewaan itu bertahan melekat karena kegagalan kita dalam berkreasi.

Sebuah survey di tahun 1987 dilakukan di Amerika, tentang apakah para responden merasakan bahwa mereka sudah sampai pada mimpi dan kehidupan yang mereka idam-idamkan, baik dalam hal karir maupun kehidupan berkeluarga. Mimpinya orang-orang Amerika. Kelompok pertama, yang berpendapatan dengan golongan kira-kira menengah ke bawah, 95% respondennya bilang tidak, mereka tidak merasa sudah sampai pada mimpi dan hidup yang diidamkan. Yang berpendapatan lebih dari tiga kali lipat kelompok pertama tadi, 94% respondennya juga bilang tidak. Jadi, butuh berapa banyak lagikah uang yang kita harus dapatkan untuk merasa bahagia dan penuh? Harus sesempurna apakah keluarga kita agar kita bisa merasa bahagia?  

Karena pandangan tentang krisis paruh baya sering dijadikan dalih bagi banyak orang untuk bertingkah aneh-aneh, maka dilakukanlah penelitian demi penelitian. Sejak tahun 1980-an beberapa hasil penelitian muncul untuk menolak pandangan krisis paruh baya sebagai fase yang akan dilalui oleh sebagian besar orang dewasa. Bukti yang ada tidak cukup signifikan untuk menjadi pembenaran. Paling-paling hanya 10-15% orang berusia paruh baya saja yang akan melalui krisis ini. Memang usia paruh baya kerap menjadi masa di mana orang melakukan refleksi dan menimbang ulang hidupnya, namun tidak selalu kemudian berkaitan dengan krisis paruh baya yang populer itu. Yang lebih mungkin menyebabkan seseorang mengalami krisis adalah tipe kepribadiannya dan riwayat krisis psikologisnya. Keduanya ini, yaitu tipe kepribadian dan riwayat krisis psikologis, tidak melulu menjadi penyebab krisis pada seseorang di masa paruh bayanya, melainkan juga bisa jadi penyebab di masa-masa lebih awal kehidupan. 

Jika seseorang punya kecenderungan untuk menghindari konflik dalam kehidupan pribadinya dengan orang lain, mengidap perasaan sebagai orang gagal, secara emosional berjarak dan punya kepercayaan diri yang rendah, maka mereka akan mengalami kesulitan menghadapi transisi masa paruh baya. Katanya, tipe kepribadian seperti ini, yaitu tipe menghindar (avoidant personality), punya ketakutan yang mendalam akan perasaan malu dan ditolak. Karena perasaan inilah, alih-alih meminta bantuan/pertolongan dan mencari solusi, mereka lari dari masalah.

Sementara orang-orang yang hidup untuk memenuhi mimpinya dan hidup bertujuan, lebih rendah resikonya mengalami krisis paruh baya. Seorang laki-laki atau perempuan yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, dan pada saat bersamaan juga memenuhi kebutuhan pasangannya, akan lebih mudah memasuki transisi ke dalam masa paruh baya. Orang-orang yang tidak memikirkan tentang apa yang mereka inginkan dari kehidupan dan lebih banyak berpikir tentang mengurus orang lain juga lebih cenderung mengalami krisis paruh baya. Jika pasangan anda bekerja keras banting tulang, menghabiskan hampir seluruh waktu senggangnya bersama keluarga dan tidak mengejar pengalaman hidup di luar keluarga akan lebih beresiko mengalami krisis paruh baya. Jika istrimu menghabiskan waktunya mengurus anak, memasak, membersihkan dan menata rumah, selalu menempatkan kebutuhan keluarga di depan kebutuhan dirinya, maka dia juga beresiko mengalami krisis paruh baya. Terlebih jika dia tidak punya minat di luar rumah, tidak punya karir dan tidak punya mimpinya sendiri.

Satu lagi faktor lain yang diduga menjadi penyebab sulitnya seseorang menyelesaikan krisis paruh baya adalah kecenderungan perfeksionis, yang ingin segala sesuatunya sempurna. Seorang perfeksionis akan sulit menerima tawaran pertemanan dan kasih sayang dari orang lain. Jika kita diam-diam tidak mencintai diri sendiri (karena diri sendiri pun tidak bisa sempurna), bagaimana kita bisa mencintai orang lain dan bagaimana orang lain bisa mencintai kita? Seorang perfeksionis akan mencurigai bahwa orang lain menunggu untuk menangkap basah ketidaksempurnaannya, karena begitu juga-lah yang akan dilakukan oleh seorang perfeksionis. Sulit baginya untuk membentuk hubungan yang hangat dan tulus. Ketika sampai pada masa paruh baya dan menyadari bahwa hidupnya tidak sesempurna seperti yang diinginkannya, dan dia gagal menerima ketidaksempurnaan itu, dia mengalami krisis. Walaupun sepanjang hidupnya dia telah bekerja keras untuk segala pencapaiannya, karena bagaimana pun tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia yang tidak sempurna ini, dia tidak mengijinkan dirinya untuk menerima bahwa dia telah melakukan yang terbaik dalam hidup.

Mereka yang berselingkuh dari suami/istrinya di masa paruh baya, punya beberapa penyebab. Sadar maupun tidak, seseorang berselingkuh karena krisis kepercayaan dirinya, karena ketidakbahagiaan pada dirinya sendiri. Perselingkuhan, atau yang sering disebut dengan bangga sebagai petualangan cinta, menjadi pengalih semu dari permasalahan yang sebenarnya. Bagi mereka yang mengalami perasaan panik karena proses penuaan, berselingkuh membuat seseorang mempercayai bahwa dirinya masih punya daya tarik. Berselingkuh juga menjadi sumber kesenangan segera yang semu dan adiktif dari ketidakbahagiaannya dalam hidup, dan pengalih perhatian dari pemikiran yang menakutkan bahwa kematian sewaktu-waktu akan menjemputnya. Dan krisis paruh baya akan menjadi semakin parah ketika pada suatu saat seseorang dipaksakan menghadapi kenyataan bahwa dirinya sendirilah sumber ketidakbahagiaan itu, juga bila ditambah dengan fakta bahwa karena perilakunya tersebut keluarganya telah meninggalkannya. Merasa sendirian, kesepian dan tidak bahagia sepanjang sisa hidup.    


Krisismu, Keputusanmu, Tanggung Jawabmu

Aku percaya bahwa manusia, dalam masa-masa krisis pribadinya, punya porsi tanggung jawabnya sendiri untuk membenahi krisisnya tersebut. Budaya, rejim dan sistem pemerintah, kecenderungan jaman, mungkin bertanggung jawab terhadap krisis-krisis pribadi dalam kehidupan umat manusia, termasuk krisis paruh baya. Namun tetap, kita yang sedang dalam krisis tidak bisa hanya bertopang dagu dan menyalahkan semua hal lain di luar diri tanpa diri kita sendiri bertanggung jawab terhadap diri kita.

Banyak dari orang-orang yang mengalami krisis paruh baya tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada diri mereka dan tidak paham penyebabnya. Dan banyak dari mereka yang tidak paham ini menolak untuk bertanggung jawab terhadap perilakunya sendiri, terhadap dirinya sendiri, apalagi terhadap orang lain di sekitar yang terkena dampak tidak langsungnya. Mereka akan menolak dan lari dari fakta, tanggung jawab, tuntutan dan pertanyaan-pertanyaan yang orang lain ajukan. Mereka mungkin bahkan menyerang balik orang-orang di sekitarnya dengan memutar balik fakta, tanggung jawab, tuntutan dan pertanyaan yang sama. Jika misalnya dia diusulkan atau diajak untuk menemui seorang konselor, kemungkinan besar dia akan menolak.   

Penderitaan orang-orang di sekitar si pengidap krisis paruh baya ini tidak berarti apa-apa bagi si pengidap yang masih dalam kondisi menolak dan lari tersebut, apalagi mengharapkan dia bertanggung jawab atas penderitaan yang disebabkannya tersebut. Dia masih berputar-putar dan terpaku di sekitar “penderitaannya” sendiri, perasaan tidak bahagianya tentang segala sesuatu. Terutama adalah mereka yang merasa dan menghayati peran dirinya sebagai korban. Ada “korban” yang melimpahkan kesalahan pada orang-orang lain atau hal-hal lain di luar dirinya, ada juga “korban” yang menyalahkan dirinya sendiri.

Selama pengalamanku bersama para korban apa pun, aku menemukan bahwa salah satu kekuatan paling besar untuk menarik seorang korban keluar dari jurang kondisinya sebagai korban adalah saat munculnya perasaan, kesadaran, keputusan dan komitmen untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri, lalu terhadap orang lain. Pada perempuan korban kekerasan, misalnya, keadaan yang muncul biasanya sebaliknya, yaitu tanggung jawab terhadap orang-orang lain dulu, dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri akan dilakukannya setelah selesai semua tanggung jawabnya pada orang-orang lain, yang berarti entah kapan itu akan benar-benar mulai terjadi. Sementara anak-anaknya, yang perempuan mungkin di masa dewasanya akan juga menjadi korban kekerasan karena si ibu gagal memberikan teladan hidup berjuang keluar dari peristiwa kekerasannya. Dan anak-anaknya yang laki-laki, mungkin di masa dewasanya akan menjadi pelaku kekerasan karena belajar dari si ayah yang boleh melakukan apa saja yang disukainya terhadap perempuan. Dan bila si pengidap krisis paruh baya gagal memberikan teladan bagi anak-anaknya tentang bertanggung jawab terhadap diri sendiri menyelesaikan dengan baik krisis paruh bayanya, tidakkah kemungkinan anak-anaknya itu juga akan mengulang hal yang sama? Tidakkah kita seringkali menemukan bahwa setelah dewasa kita mengulangi perilaku yang tidak kita sukai dari orang tua kita, karena kita tidak memiliki pengalaman diasuh dalam perilaku yang lebih baik yang seharusnya ditunjukkan oleh orang tua kita?


Mereka Yang Berada Di Sekitar Mengambil Sikap

Seorang konselor on-line yang berpengalaman dalam menghadapi permasalahan krisis paruh baya berkata kepada seorang perempuan yang mengeluhkan perubahan perilaku suaminya sedang mengidap krisis paruh baya yang lari dari tanggung jawabnya dan menumpahkan kesalahan pada orang lain: “Saya sangat sarankan bahwa Anda menemui seorang konselor untuk membantu Anda memutuskan apa yang dapat dan tidak dapat Anda tangani, dan bagaimana mengembalikan kepercayaan diri Anda lagi. Semestinya menjadi komitmen dia (suami) untuk kembali pada Anda dan anak-anak. Anda tidak bisa membuatnya ingin kembali. Itulah kenapa saya menyarankan agar Anda fokus pada diri Anda dan pada perasaan kehilangan yang Anda dan anak-anak anda alami. Anda harus mampu memutuskan apa yang bisa dan apa yang tidak bisa Anda tolerir lagi. Ketika Anda sudah membuat keputusan itu, maka suami Anda-lah yang harus berusaha menyesuaikan dirinya ke dalam keputusan Anda. Suami Anda tidak akan mau menghadapi kenyataan sampai Anda sendiri yang memutuskan bagaimana diri ANDA sendiri akan berhadapan dengan perilakunya, sampai Anda sendiri belajar untuk mempertahankan kebutuhan dan hak-hak Anda lagi. Bagaimanapun, Anda butuh mempertahankan kewarasan Anda sendiri.”  

Yang dihadapinya adalah sebuah kondisi paling sulit: bagaimana menolong seseorang yang tidak ingin ditolong. Orang tersebut harus sampai dulu pada suatu titik bahwa dia sendiri yang menginginkan perubahan, yang biasanya berarti bahwa dia harus mengalami cukup banyak pengalaman tak menyenangkan pada masa ini sampai pada saat kondisi status quo itu tidak bisa lagi ditolerir oleh si pengidap sendiri. Beberapa pengidap harus sampai pada kondisi dekat dengan maut untuk bisa menyadari permasalahan dan penderitaan yang dibuatnya selama ini.

Kasusnya akan berbeda pada pengidap krisis paruh baya yang menyadari bahwa dirinya punya masalah dan ingin menyelesaikannya. Harapannya masih lebih besar daripada para pengidap yang tidak sadar masalahnya dan tidak mau bertanggung jawab. Apalagi bila si pengidap menyatakan bahwa dia masih mencintai pasangannya dan masih berkehendak untuk membuat rencana-rencana bersama untuk masa depan. Dan bahwa si pasangan juga masih mencintai si pengidap. Bagaimanapun, cinta adalah sebuah daya perubah yang tidak bisa diremehkan kekuatannya.

Entah bagaimana, badai krisis itu masih mungkin berlalu. Jika kita berkeinginan untuk tetap membuka pintu bagi pasangan kita yang sedang mengalami krisis paruh baya, bijaksananya juga pada saat bersamaan kita butuh memulai kehidupan untuk diri kita sendiri. Untuk bisa mengambil sikap dan pilihan kita sendiri. Kita tidak perlu tergantung padanya. Tidak perlu menunggu perubahan si pengidap. Tidak perlu menunggu rasa iba darinya. Jika setelah sekian lama dialog dengan si pengidap hanya berputar-putar di situ saja tanpa menunjukkan kemajuan apa pun, mungkin kita sudah tiba pada kebutuhan menghadirkan seorang penengah atau seorang konselor yang paham.

Janganlah lupa bahwa anak-anak pun terdampak dari krisis paruh baya yang dialami orang tuanya. Mereka perlu diyakinkan bahwa mereka tidak bertanggung jawab dan bukan sebagai penyebab masalah. Selayaknya kita ingin mempertahankan pernikahan kita karena mengingat kepentingan anak-anak kita. Namun perlu juga dipertimbangkan tingkat stress yang dihasilkan dari masa krisis paruh baya itu. Bila keadaan sedemikian parahnya, maka demi kepentingan anak-anak juga, nampaknya kita perlu menimbang ulang pemikiran apakah pernikahan masih layak untuk dipertahankan atau tidak. Bila si pengidap dengan seenaknya sampai membawa selingkuhannya ke rumah dan bercinta di situ, atau berhutang uang dalam jumlah sangat besar sampai membahayakan keselamatan keluarga, dan hal-hal lain yang tidak bisa ditolerir lagi, ...baik-baik pertimbangkan ulang. Bagaimanapun, untuk mempertahankan keutuhan hubungan antara dua orang, butuh kedua orang itu juga untuk bertanggung jawab memperjuangkannya. Tidak bisa sendiri.


Berdamai Dengan Masa Lalu, Merayakan Masa Antara dan Bersiap Menemukan Imbalan Masa Depan

Terkadang untuk menyelamatkan sesuatu, kita perlu merelakannya pergi. Namun merelakan masa lalu adalah salah satu hal paling sulit bagi mereka yang mengalami krisis paruh baya. Di tahun-tahun itu, kita harus merelakan perginya beberapa hal yang sangat berharga dan kita sayangi, seperti anak-anak kita yang telah beranjak dewasa yang telah mandiri dan pergi dari rumah, meninggalnya orang tua kita sendiri, atau perginya kemudaan kita sendiri. Sebagian dari diri kita ingin sekali terus mempertahankan agar anak-anak kita tetap jadi anak-anak dan tetap tergantung pada kita. Tapi tidak bisa, dan sebaiknya tidak. Anak-anak kita butuh kepercayaan diri mereka sendiri sebagai orang dewasa agar bisa jadi mandiri.  

Mereka yang belum genap menyelesaikan perasaan kehilangannya karena anak-anak mereka yang telah beranjak dewasa dan pergi, nantinya di masa lansia akan cenderung terlalu memanjakan cucu-cucu mereka. Kekalnya perasaan tidak rela dan kesepian karena ditinggalkan membuat mereka ingin membuat cucu-cucu mereka tetap terikat pada mereka dengan melimpahkan kasih sayang dalam cara berlebihan dan tidak mendidik. Hal ini yang sering menjadi keluhan para orang tua muda yang anak-anaknya menjadi terlalu manja dan manipulatif karena campur tangan yang tidak mendidik dari kakek-neneknya. “Seingatku, dulu orang tuaku itu membesarkanku dengan disiplin dan keras. Tapi sekarang mereka berbeda sekali menghadapi cucu-cucu mereka, termasuk anak-anakku. Mereka jadi terlalu memanjakan anak-anak. Beberapa aturan dan disiplin yang kami coba terapkan di rumah jadi buyar kapan pun anak-anak berada bersama kakek-nenek mereka,” keluh seorang ibu muda yang juga tidak memahami apa yang melatarbelakangi perilaku orang tuanya itu.  

Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa kehilangan dalam hidup, seringkali teman-teman atau orang-orang lain di sekitar kita merespon rasa kehilangan kita dengan cara-cara yang mungkin berniat baik, tapi tidak membantu. Mereka memberi nasihat atau berkata, “Sudahlah, tersenyumlah. Syukurilah bahwa kejadiannya tidak lebih buruk dari ini.” Atau, “Sudahlah. Jangan dipikirkan lagi.” Tapi nasihat seperti itu mengecilkan makna dari peristiwa kehilangan yang kita alami. Air mata yang keluar adalah ungkapan rasa kasih sayang kita yang nyata kepada orang-orang yang kita sayangi yang pergi meninggalkan kita. Bila kita perlu menangins, maka kita perlu menangis. Mengijinkan diri untuk berduka adalah langkah yang penting sebelum kita bisa masuk ke tahapan berdamai dengan peristiwa atau perasaan kehilangan.  

Masa paruh baya, adalah salah satu dari masa-masa “antara”. Kalau kau pernah berkendaraan bersama keluarga dari rumah menuju tempat berlibur, maka perjalanan ke tempat tujuan berlibur adalah masa antara. Sebagian anggota keluarga mungkin merasa tersiksa karena dalam perjalanan (masa antara) tersebut dipandang sebagai belum saatnya untuk bersenang-senang. Tidak boleh menangis, tidak boleh bermain-main, tidak boleh banyak bicara, tidak boleh banyak bergerak, dll. Makanya banyak anak yang tidak suka dengan perjalanan ke tempat liburan, sehingga mereka merasa merana karena begitu ingin cepat sampai ke tempat tujuan pelesir namun perjalanan dirasakan panjang. Kita yang meremehkan makna perjalanan ke tempat tujuan, akan merasa belum benar-benar hidup selama perjalanan masih berlangsung, selama belum benar-benar sampai di tempat tujuan. Dan kita pun sesungguhnya mengecilkan makna dari begitu banyak masa antara dalam hidup kita. 

Pikirkanlah ini: sembilan bulan masa kehamilan adalah masa antara, sebelum anak dilahirkan. Membesarkan anak di rumah juga adalah masa antara, sebelum anak keluar rumah mencari penghidupannya sendiri untuk menjadi orang yang berhasil. Kuliah juga adalah masa antara, sebelum tiba saatnya mendapatkan pekerjaan yang kita idam-idamkan. Beristirahat di tempat tidur selama masa penyembuhan setelah terjadinya kecelakaan juga adalah masa antara yang cukup sulit, sebelum tubuh kita benar-benar sehat kembali dan siap berfungsi seperti sedia kala. Memulihkan diri selama masa berduka setelah hilangnya seorang yang kita cintai juga adalah masa antara yang tidak mudah, sebelum mental kita pulih menerima semua itu dan melanjutkan kehidupan ke depan. Serupa juga halnya masa paruh baya sebagai masa antara, sebelum kita menikmati hasil-hasil dari perjuangan kita. Selama semua masa antara tersebut, kita seringkali lupa atau tidak mengijinkan diri untuk merayakan kehidupan. Betapa naif pemikiran bahwa kita harus terus menunda, menunggu dan hanya boleh merayakan kehidupan setelah menyelesaikan semua perjalanan di masa antara tersebut, setelah sampai ke tujuan. Hidup tidak ditunda sampai kita tiba pada tujuan. Hidup dimulai saat ini, hari ini. Rayakanlah.

Satu hal yang perlu kita waspadai: seringkali kita “merayakan kehidupan” di masa-masa antara tersebut dengan mengartikannya sebagai aktivitas bersenang-senang belaka, menjadi hedonis. Dan yang celaka adalah bila dalam “merayakan kehidupan” tersebut sesungguhnya mencederai tujuan kita, mimpi kita, dan mencederai nilai dan makna kehidupan itu sendiri. Banyak para pengidap krisis paruh baya keliru memaknai merayakan kehidupan dengan kesenangan-kesenangan sementara yang bersifat permukaan yang menimbulkan penderitaan bagi orang-orang yang disayanginya dan yang menyayanginya.   

Menikmati hidup tidak perlu menunggu sampai usia paruh baya atau sampai waktunya betul-betul sempurna untuk itu. Jika bertamasya bersama keluarga adalah penting, pergilah walaupun kesibukan kita nyaris tidak pernah mereda. Jika mengambil kursus ketrampilan atau bersekolah lagi adalah penting untuk masa depan yang lebih baik, jangan menunggu terlalu lama. Temukan cara-cara untuk menyesuaikan jadwalnya di antara tanggung jawab dan tugas-tugas yang sudah ada saat ini.

Seorang perempuan berkisah: “Aku mengijinkan diriku berduka atas kepergian anakku dari rumah dan memahami bahwa tidak ada pilihan lain selain menerima dan berdamai dengan kepergiannya. Pengorbanan semacam ini ternyata kemudian membawa imbalannya sendiri untukku. Baru-baru ini aku makan malam dengan anakku, yang sekarang sudah lulus kuliah di tempat yang jauh itu. Dia yang memesan dan membayar makan malam kami. Anakku sekarang benar-benar sudah dewasa. Dia telah tumbuh menjadi perempuan yang menawan, percaya diri, yang mampu memilih jalannya sendiri dalam hidup. Aku menemukan orang dewasa baru yang bisa menjadi temanku. Kami mengobrol seperti layaknya dua orang teman. Dan untuk masa paruh bayaku ini, menemukan dan memiliki seorang teman adalah salah satu berkat terbesar dalam hidupku.” 

Dalam perihal kehilangan pekerjaan, kemampuan, teman dan lain-lain, jika kita berhasil berdamai dengan rasa kehilangan itu, akan menghantar kita pada penemuan-penemuan baru. Seseorang atau suatu hal yang sudah pergi atau hilang, walaupun kita mencoba terus menggenggamnya erat-erat, tidak akan membawanya kembali. Melainkan hanya akan membutakan mata kita pada hadiah lain dari kehidupan dan kebahagiaan yang tidak akan kita sadari sebelumnya. Apakah kau memang harus merelakan sesuatu pergi? Lakukanlah. Kemudian, lihatlah sekelilingmu. Mungkin engkau sedang melihat pada hal-hal yang kelak akan menjadi berkat terindah dalam hidupmu.

********************

Henry David Thoreau berada di usia akhir dua puluhan ketika dia mengambil waktu sejenak untuk menyendiri di Walden Pond, dan kata-katanya masih mengungkapkan alasan terbaik untuk pengalaman menyendirinya itu: “Aku masuk ke hutan karena aku menginginkan untuk hidup dengan tujuan, untuk menghadapi hanya fakta-fakta terpenting dalam hidup, dan untuk melihat apa yang sudah diajarkan oleh kehidupan. Dan karena ketika aku mendekati kematian nanti, aku tidak ingin menemukan bahwa aku belum hidup.”


AM-HU, 30 Januari 2012
Sondang Sidabutar


Bahan Bacaan:
http://www.bestyears.com/getaway.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Midlife_crisis
http://divorcesupport.about.com/od/isdivorcethesolution/f/midlifecrisis.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar