MENGANTAR DI PINTU RUANG BERCERMIN

Berbagi Cermin Hidup...

Adalah niatanku (dan mereka yang turut berkisah) untuk saling berbagi proses dan hasil perenungan hidup kami. Aku masih seorang pemula, dan pasti juga bukan perintis. Kita teruskan saja apa yang pernah dan masih menjadi baik.
Jika kau bisa menemukan cerminmu di kisah-kisah yang kuceritakan, aku ikut merasa senang. Jika tidak, berbagilah dengan orang-orang lain, karena mungkin seseorang yang lain bisa menemukan cerminnya di situ.
Mari berbagi cermin hidup.

Selasa, 04 Desember 2012

ORANG-ORANG BAIK



Ada banyak orang baik di dunia ini.


Yang satu macam ini, baiknya kepada orang-orang yang telah dikenal dekat dan akrab. Itu berarti keluarganya sendiri, pacarnya, atau isteri/suami dan anak-anaknya, teman-teman dekatnya. Jadi, walaupun orang-orang tersebut tidak selalu berbuat kebaikan padanya, dia sudah terbiasa dan terus berbuat baik pada mereka. Tapi tidak pada yang lain. Orang-orang yang telah mengenalnya dengan dekat akan bilang, “Dia orang baik.” Yang lainnya bilang, “Dia orang yang menyebalkan dan kasar.” Si orang baik ini berkata, “Siapa lagi yang bisa kuandalkan bantuannya jika aku sedang butuh kalau bukan mereka yang dekat denganku? Aku butuh mereka, oleh karena itu aku berbuat baik pada mereka. Merekalah yang tercepat untuk diakses.”

Ada orang baik lain yang menunggu dirinya punya kelebihan dulu untuk bisa memberi. Seperti teko atau gelas yang diam yang airnya hanya akan keluar kalau sudah luber. Jadi, jangan berharap akan ada air yang mengalir keluar kalau belum benar-benar penuh. Dia akan berbuat kebaikan di (kadangkala) saat ada kenaikan gaji atau waktu menerima gaji ketigabelas. Itu pun setelah semua kebutuhan dan keinginannya terpenuhi. Katanya, “Kalau kau sudah pernah naik pesawat terbang, maka kau akan ingat perkataan pramugari, bahwa kau harus memakai masker oksigen dulu, baru kau berikan pada anak kecil di sebelahmu. Kalau tidak begitu, bisa-bisa kau keburu mati lemas duluan.” Kalau ada orang yang mengetuk pintunya minta sumbangan, dia tidak memberi, katanya sambil bersungut-sungut, “Orang saya saja juga sudah hidup susah begini.” 

Ada orang baik yang perbuatan baiknya sangat tergantung pada suasana hatinya. Bila dia berbuat baik, maka orang-orang berkata, “Tumben. Pasti mood-nya lagi bagus, tuh.” Jadi, bila misalnya dia sedang jatuh cinta, dia melihat segala sesuatu di sekitarnya indah sampai-sampai dia bisa memeluk nenek-nenek yang lewat di depannya. Sebaliknya, bila suasana hatinya sedang buruk, untuk amannya lebih baik jangan berada dekat-dekat. Orang lain yang sudah paham hanya akan berada dekat dengannya atau meminta kebaikan darinya bila suasana hatinya sedang baik, atau lebih pintar lagi, mampu membuat hatinya senang untuk bisa mendapat kebaikan darinya.  

Ada orang baik yang pakai hitungan dagang, seperti transaksi bisnis. Inti pertanyaannya: ‘kalau saya berbuat baik padamu, apa untungnya buat saya?’ Jika tidak ada keuntungan sepihak untuknya, setidaknya harus ada keuntungan timbal-balik yang sepadan. Tidak ada makan siang yang gratis. Bila ada orang yang berbuat baik padanya, walaupun orang itu tidak meminta balasan apa pun, dia akan mengusahakan membalas kebaikan tersebut. Sebaliknya, untuk dirinya memulai suatu perbuatan baik, lagi-lagi dia kembali pada inti pertanyaannya: kalau saya berbuat baik padamu, apa untungnya buat saya? Kalau pun dia tidak meminta balasan sekarang, maka hutang-hutang budi itu akan ditagihnya suatu saat nanti, ketika dia sudah lemah, tidak punya apa-apa dan tua renta. Para orang tua yang menganut kebaikan macam ini, jelas akan menanamkan prinsip ini sejak dini kepada anak-anaknya sehingga anak-anaknya percaya bahwa begitulah adanya kebaikan. Harus timbal-balik. Jika tidak segera, maka suatu saat nanti.     

Lalu ada orang baik macam yang lain, yang baik pada segelintir orang pilihan. Dia hanya baik pada orang-orang yang selama ini telah lama berbuat kebaikan pada dirinya, terutama orang-orang yang tidak pernah mengecewakannya. Pada orang-orang yang sudah pernah mengecewakannya (berkali-kali), dia tidak sudi lagi berbuat baik. Kapok. Dengan sendirinya, orang-orang yang tak dikenal tidak masuk hitungan. Orang-orang yang selama ini berbuat baik padanya bilang, “Dia orang baik.” Orang-orang yang tidak berbuat baik padanya bilang, “Siapa bilang dia baik?”, dan yang pernah mengecewakannya (berkali-kali) bilang, “Dia dulu orang baik. Tapi sekarang dia sudah berubah.” Si orang baik ini berkata, “Untuk apa berbuat baik pada orang-orang yang jahat padaku? Hanya orang-orang baik yang pantas mendapat perlakuan baik juga. Hidup ini perjuangan. Yang sia-sia jelas tidak pantas untuk diperjuangkan.”

Satu macam orang baik yang lain, dia punya muatan kebaikan begitu banyak untuk dibagikan ke banyak orang. Tidak terbatas pada keluarganya, teman-teman dekatnya, teman-teman keluarganya atau keluarganya teman-temannya, dia juga baik pada orang-orang yang baru dikenalnya. Dia percaya manusia itu baik. Banyak orang merasa nyaman berada di dekatnya, berbagi kisah mereka padanya. Mereka bilang, “Dia baik pada semua orang tanpa membeda-bedakan.” Begitu baiknya, sampai orang-orang yang tidak tahu berterima kasih cenderung menyia-nyiakan dan menghamburkan pemberian kebaikan darinya karena berpikir bahwa dia akan senantiasa baik dan dapat diandalkan bantuannya. Kepada orang-orang seperti ini, si orang baik ini sabar menunggu perubahan ke arah yang lebih baik tidak peduli betapa dia sudah tercederai oleh perilaku orang-orang itu. Bahkan ketika teman-temannya sudah gemas melihat air susu dibalas air tuba dan menasihati orang baik itu untuk menghentikan perbuatan baiknya pada si air tuba. Terkadang, si orang baik ini terjatuh ke jurang yang diciptakan orang lain untuknya.

Ada satu macam orang baik yang hanya akan bersikap baik kalau ada perlunya. Dia punya kepentingannya sendiri, tujuannya sendiri. Jika dia menilai bahwa seseorang akan berguna untuk kepentingannya, maka dia mendekati orang tersebut dan bermanis-manis padanya. Kata-kata pujian berbunga berhambur sampai besar kepala orang itu sehingga mau melakukan apa saja buat si orang baik tersebut. Hadiah-hadiah dan perhatian akan diberikan sampai-sampai orang bersedia mengorbankan hidupnya untuk si orang baik. Kebaikannya bisa bertahan lama tergantung apakah tujuannya sudah tercapai atau belum. Jika sudah, bisa diduga, si orang baik akan mencampakkan orang yang sudah dihisap manisnya sampai tinggal sepahnya. Si orang terbuang itu sampai-sampai merasa terperangah karena tiba-tiba saja hubungan mereka terputus. Tidak ada kabar, jika ditelpon tidak diangkat, di-SMS tidak dijawab. Terkadang, tidak harus menunggu sampai dihisap habis sari manisnya untuk dicampakkan. Alasannya, tiba-tiba muncul orang lain yang lebih segar, lebih kuat, lebih menarik, lebih kental sari manisnya yang bisa dihisap oleh si orang baik. “Tentu saja. Mengapa tidak? Dia sudah tidak ada gunanya lagi bagiku,” demikian kata si orang baik ini.

Ada orang baik yang terpaku pada kepercayaannya sendiri tentang baik, menurut versinya sendiri. Seringkali dia memaksakan kebaikannya kepada orang lain meskipun orang lain tersebut tidak butuh. Bila dia percaya bahwa bersih dan sehat itu adalah baik, maka dia akan sibuk memasak makanan sehat tanpa vetsin menu vegetarian untuk orang lain yang sebenarnya gemar jajanan fried chicken bervetsin atau membersihkan kamar orang lain yang sebenarnya senang bila kamarnya dibiarkan amburadul dan kotor seperti biasanya. Atau dia akan sibuk mencarikan jodoh untuk orang-orang jomblo yang sejatinya senang dengan kebebasan hidup dengan status single. Walaupun sudah dijelaskan sekonkrit mungkin di depan mukanya dengan gerakan bibir sejelas-jelasnya bahwa seseorang tidak menginginkan kebaikan semacam itu, si orang baik tersebut akan masih bergerilya melancarkan kebaikan-kebaikannya, masih menurut versinya sendiri. Terkadang, bahkan seringkali, dia akan menunjukkan ekspresi terluka bila kebaikannya ditolak. “Saya berbuat ini kan demi kebaikanmu!” Maka, demi kebahagiaan si orang baik, orang lain menerima saja kebaikan-kebaikan tersebut, dengan terpaksa. 

Ada satu macam orang baik yang berbuat kebaikan karena ajaran, perintah atau suruhan. Ketika ditanya alasannya berbuat baik, sambil mengangkat bahu, ujung-ujungnya jawaban yang dia berikan, “Karena saya disuruh melakukan itu,”. Orang baik bermental pengikut ini tidak paham konsekuensi dan tanggung jawab dari segala perbuatannya, termasuk perbuatan baiknya. Dia menunggu perintah, bergerak ketika disuruh, patuh pada ajaran, bahkan ketika dia sedang tidak ingin. Kadang-kadang kebaikannya karena ada bayaran atau iming-iming imbalan.   

Ada orang baik yang sesuai dengan ungkapan ‘teman di kala senang’ atau ‘ada gula ada semut’. Yang ini tidak asing, bukan? Mereka memeriahkan pesta-pesta dan acara-acara bersenang-senang lainnya. Kalau berjumpa, peluk erat cipika-cipiki dengan tawa yang meledak-ledak dan ekspresi yang nyaris histeris. Mereka ada di saat-saat kejayaan dan perayaannya. Pokoknya, kalau ada mereka, dijamin acara jadi ramai dan hidup. Party goers! Party hard! Tapi kalau seseorang sedang jatuh, mereka semua mabur, mencari pesta di tempat lain di perayaan kejayaan orang lain.  

Orang baik lain berbuat baik pada yang lain karena sedang dalam kondisi yang sama, dalam perahu yang sama, di arus yang sama. Para mania klub sepak bola, mereka yang berpawai untuk kampanye partai, massa besar dalam demonstrasi, mereka yang berdiri di sisi yang sama dalam konflik antar golongan, dalam euphoria massal seperti itu yang terutama bagi mereka adalah persamaan dalam kondisi khusus tersebut. Semua orang terlihat sebagai orang baik pada saat itu. Makanan dan minuman dibagi-bagi, alas duduk digelar untuk dipakai sama-sama, temanmu adalah temanku juga. Selesai acara, kebanyakan kembali ke kehidupan masing-masing. Beberapa mungkin masih meneruskan perjumpaan dan lebih banyak perbuatan baik lagi. Sebagian besar yang lainnya tidak berlanjut, dan jika tak sengaja berjumpa lagi satu sama lain mungkin kembali menjadi orang asing.  

Ada macam orang baik yang berbuat baik untuk menjerat orang lain masuk perangkapnya. Kira-kira mirip seperti para pihak peminjam uang yang mengenakan bunga tinggi bagi pihak peminjam. Biasanya, orang-orang meminta bantuan dari orang baik semacam ini karena dia adalah pilihan terakhir satu-satunya, daripada mati kelaparan, bunuh diri atau dibunuh. Hanya sedikit orang yang bisa benar-benar lepas dari jeratnya. Sementara banyak orang lainnya yang terus-terusan dijerat hutang hasil dari satu-dua kebaikan yang pernah diterima dari si orang baik ini. Si orang baik ini akan memasang paras seperti malaikat pada para calon mangsanya. Tapi begitu jerat mengena, tidak ada lagi muka manis, bulan promosi habis sudah. Untuk memastikan para korbannya tetap berada dalam jeratnya, biasanya si orang baik ini punya tukang-tukang pukulnya atau gerombolan premannya sendiri. Herannya, walaupun sudah banyak korban berjatuhan, orang-orang lain yang sudah tahu tabiatnya masih saja nekat minta bantuan dari orang ini. Yah itulah, karena sudah tidak ada pilihan lagi. Alias, sudah tidak ada orang baik lagi yang bisa dimintai pertolongan dalam keadaan mendesak.   

Satu macam orang baik lainnya suka memberikan ujian ke orang lain dulu sebelum dia berbuat baik ke orang tersebut. Orang-orang yang tidak lulus “ujian” merutuk, merasa dikerjai, dipermainkan dan tidak habis pikir mengapa diperlakukan seperti itu. Orang-orang yang lulus ujian pada awalnya tidak bisa memahami si orang baik, sampai akhirnya mereka paham alasannya dan hanya tersenyum geli dan manggut-manggut. Mengapa? “Karena aku tidak bisa membedakan mana lawan dan mana kawan sampai mereka lulus ujian,” kilahnya dengan santai. “Begitu pula dengan orang-orang pandir dan orang-orang bijak. Aku tidak ingin membuang-buang waktu berada dengan manusia tak berguna.” Dia tidak peduli ketika ditantang dengan pernyataan bahwa dia hanya menciptakan banyak musuh. Baginya, dia tidak perlu berteman dengan semua orang, dia tidak sudi menjadi alat pemuas.

Ada orang baik yang dengan cermat menimbang kemungkinan terjadinya ketergantungan dan siklus pamrih timbal-balik tak berkesudahan, mencegahnya sebelum terjadi. Dia sendiri yang memutuskan kapan akan berkata “cukup sudah”. Jika ada orang datang meminjam uang padanya, maka dia hanya akan memberikan sebagian saja dari jumlah yang dimohonkan. Dan jika uang itu tidak dikembalikan sesuai janji, maka ketika lain kali orang lain itu datang kembali mau berhutang lagi, maka si orang baik akan bilang, “Aku tidak akan meminjamkan lagi uangku padamu bila kau belum membayar lunas hutangmu yang lalu.” Sebagian orang berpendapat si orang baik yang satu ini tidak bisa ditipu atau dipermainkan. Sebagian orang lain berpendapat bahwa si orang baik ini sebenarnya tidak baik dan tidak tulus karena sangat perhitungan. Bisa dibilang pelit, malah, karena dia tidak memberikan sebanyak yang dia mampu. Di lain pihak, jika si orang baik ini harus meminta bantuan orang lain, maka dia akan mengatur seberapa banyak/sering yang diminta yang dia sanggup balas. Dia tidak suka berhutang budi dan juga tidak ingin membuat orang lain merasa berhutang budi padanya.     

Ada orang baik lain yang seperti Robin Hood, yang merampok dari orang kaya untuk diberikan ke orang miskin dan menderita. Orang-orang kaya akan menganggap si Robin Hood kerjanya hanya menipu dan bikin kekacauan saja, sebaliknya orang-orang miskin menganggap dia sebagai pahlawan mereka. Dia tidak terlalu ambil peduli pada moral dan hukum. Dia berpendapat, harus ada orang yang berani main kotor untuk keadilan di atas bumi. Bila para orang suci dan orang pengecut tidak mau mengambil peran ini, maka tak ada pilihan lain, dirinya-lah yang maju bermain. Makanya dia seringkali dicap sebagai pemberontak dan kriminil oleh pencipta dan penjaga hukum. Terkadang panggung permainan Robin Hood bukan antara orang kaya-orang miskin saja. Ada yang antara orang jahat dan orang baik, yang dimuliakan dan yang dihinakan, yang membodohi dan yang dibodohi, yang kuat dan yang lemah, dll. Selama yang berkelebihan tidak bersedia berbagi dengan yang berkekurangan, bila dengan cara baik-baik dan cara yang pantas mereka tetap tidak bersedia, maka sudah saatnya pakai cara yang tidak baik-baik. Sah-sah saja.    

Ada orang baik yang seperti jin dalam botol. Kepadanya orang hanya bisa minta kebaikan dalam jumlah atau takaran tertentu, dan setelah itu selesai sudah. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum meminta karena kesempatan yang diberikan benar-benar terbatas. Kesempatan sekali, atau dua kali, atau tiga kali seumur hidup. Tidak jelas benar apa alasan dan motivasi orang baik semacam ini yang memilih membatasi kebaikannya sedemikian. Tapi dari perjumpaan dengannya, orang-orang biasanya jadi lebih baik mengenal dirinya sendiri, atau akhirnya harus menelan rasa penyesalan yang pahit akibat salah menimbang permintaan dan menyia-nyiakan kesempatan langka. 

Lalu, orang baik yang lain lagi berbuat kebaikan untuk maksud belajar dan mengajar. Seperti seorang guru yang partisipatif. Untuknya berbuat suatu kebaikan, dia telah menjalani perenungannya. Dan setelahnya, dia masih mengamati bagaimana perbuatan baiknya itu membuahkan akibat-akibat tertentu. Lalu dia belajar dan mengambil keputusan untuk perbuatan baik berikutnya. Begitu pula jika orang lain berbuat kebaikan padanya, dia tidak serta-merta menerima. Dia ingin belajar sesuatu dari situ. Dia pun ingin orang lain belajar dari perbuatan-perbuatan baik yang terjadi. Dalam pikirannya ada banyak pertanyaan dan dia mencari jawaban. “Jika aku melakukan ini, apakah akan membuat dia bertambah kuat atau malah bertambah lemah? Apa yang dia pelajari dari kebaikan yang diterimanya? Apakah ini benar-benar diperlukan ataukah sia-sia saja?” dll, dll. 

Orang baik yang lain, dia baik hanya pada satu orang lain. Satu orang saja. Atau dua, lah. Orang yang dianggap permata hatinya, bola matanya. Dan kebaikannya nyaris tak terbatas. Kepada orang-orang lainnya, dia tidak ambil pusing. Pada orang-orang lain dia biasanya kejam dan tidak peduli. Tapi pada si permata hati, dia jinak dan lembut sekali. Orang-orang bilang, “Tidak ada orang yang bisa memahaminya. Hanya dia saja (satu orang itu) yang bisa paham, dan kepada dia sajalah orang itu baik.” Jika ingin mendapatkan kebaikannya, maka orang-orang harus meminta melalui si permata hati atau bola mata. Jangan sampai si orang baik tahu bahwa permintaan tersebut berasal dari orang lain karena pasti tidak akan dikabulkan. Harus dibuat seolah-olah datang dari dan untuk si permata hati-bola mata. Kalau mau memeras habis orang baik seperti ini, gampang. Culik saja permata hatinya dan mintalah tebusan sebesar-besarnya. Tapi kalau sampai permata hatinya terluka, kau akan dikejarnya sampai ke lubang kuburmu.

Ada orang baik yang sepanjang hidupnya dikenal jahat, tapi tiba-tiba saja dia menjadi baik, pada semua orang. Tiada lain karena ajalnya sudah menjelang, atau dia baru saja bertobat. Jika bukan karena dia sebentar lagi mau mati, maka orang-orang akan membalaskan dendam lama mereka padanya. Orang biasanya merasa kasihan sehingga memberikan kesempatan padanya untuk menebus dosa-dosa masa lalunya dalam sisa masa yang singkat itu. Seolah-olah vonis mati sudah cukup untuk penebusannya, apalagi bila ditambah embel-embel dia mengidap penyakit parah yang mematikan. Sialnya, buat mereka yang baru saja bertobat tapi belum datang ajal, sebagian orang akan balas dendam dulu atau setidaknya memuntahkan perasaan marah dan kecewa yang selama ini mereka pendam. Mereka yang baru saja keluar dari penjara, pekerja seks komersial yang memutuskan kembali ke jalan yang lurus, keluar dengan diri yang baru, dengan kelakuan yang baik. Kebaikannya kemungkinan besar akan disambut dengan perasaan curiga, ditolak dan dihina.        

Ada orang baik yang tidak baik pada siapa pun kecuali pada dirinya sendiri. “Luar biasa egois dan narsis,” komentar orang-orang yang mengenalnya. Tapi dia masih melakukan perbuatan baik, setidaknya pada dirinya sendiri. Dia bisa saja menciptakan kerusakan dan kerugian pada orang-orang di sekitarnya untuk pemuasan dirinya. Tapi bisa saja dia tidak seperti itu. Tanpa mengambil keuntunga apa pun dari orang lain atau tanpa merugikan siapa pun, dia memenuhi, mencukupi semua kebutuhannya sendiri dan memanjakan dirinya sendiri secara berlebihan. “Peduli amat, yang penting kan saya tidak merugikan siapa pun!”    

Ada orang yang tidak berbuat baik pada siapa pun, bahkan pada dirinya sendiri sekali pun. Kasihan sekali. Semua orang bilang, “Jangan dekati dia. Dia sangat tak ramah. Tidak ada orang yang tahan berada di dekatnya.” Orang ini pun berkata, “Persetan dengan semua orang. Persetan dengan hidup ini. Persetan dengan semuanya. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan di dunia ini. Lebih baik aku cepat mati, lebih cepat lebih baik.” Apatis. Depresif. Tidak waras. Bahkan ketika ada orang lain yang mengulurkan tangannya, dia menghardik dan mengusir, meneriakkan betapa dia tak butuh kebaikan-kebaikan itu. Mungkin dia sedang dalam keadaan berduka di tahap kemarahan. Mungkin sedang berada di titik nadir hidupnya. Mungkin dia sedang dilanda rasa kecewa dan marah yang begitu besarnya akan sesuatu. Mungkin dia sedang mengalami krisis besar dalam hidupnya. Mungkin juga lagi korslet.  

Yang terakhir ini, si orang baik super brilian. Dia mampu memunculkan kebaikan-kebaikan dari nyaris semua macam orang baik. Kebaikannya licin, sangat fleksibel dan cemerlang. Karena dia menggunakan kebaikannya untuk memunculkan kebaikan orang lain dengan karakter dan dalam kondisi tersulit sekalipun, maka hampir semua orang memandang dia sebagai orang baik, tapi juga cukup membingungkan sekaligus mengundang decak kagum. Dia berlatih dan bekerja keras untuk menguasai kemampuan ini sehingga pantaslah untuk diacungi semua jempol yang ada. Orang baik seperti ini mungkin saja ada, mungkin juga cuma ada dalam khayalan saya. Khusus untuk dia, penjabaran tentangnya tidak cukup dimuat dalam satu paragraf saja.

Dia akan mengusahakan kedekatan dengan orang baik yang berbuat baik hanya kepada orang-orang yang telah dikenal dekat dan akrab. Tidak lupa mengucapkan salam sesering mungkin dan bersedia mendengarkan keluh-kesahnya, jadi pundak tempat mencurahkan ratapan. Dia mengamati, menunggu dan menangkap kesempatan saat di mana orang baik yang seperti teko pasif airnya mulai luber. Hal yang sama juga berlaku untuk orang baik yang tergantung pada suasana hati dan tentu, karena dia pintar, dia bisa memunculkan suasana hati yang baik untuk orang itu. Kepada orang baik yang memakai hitungan dagang, dia bisa menawarkan kesempatan kerja sama yang saling menguntungkan. Dia berusaha sekuatnya untuk tidak pernah mengecewakan si orang baik yang baik hanya kepada segelintir orang yang tidak pernah mengecewakan. Tentu saja, akan jauh lebih mudah bila kasusnya dengan orang baik yang punya kapasitas kebaikan tak terbatas. Untuk orang baik yang baik jika ada perlunya, dia tidak berkeberatan dimanfaatkan namun juga berhati-hati untuk tidak dirugikan serta tahu kapan saatnya balik memanfaatkan orang tersebut. Pada orang baik yang terpaku pada versi baiknya sendiri, dia bersikap santai saja menerima kebaikan itu, mengucapkan terima kasih karena tahu itu akan membahagiakan si pembuat kebaikan, dan bila perlu secara bergerilya pula menyalurkan kebaikan tersebut pada orang-orang yang lebih membutuhkan. Kepada orang baik yang bermental pesuruh, dia juga menerima kebaikan suruhan dan secara tersirat menyuruh orang tersebut berbuat baik pada dirinya sendiri (maksudnya si orang pembuat kebaikan bermental pesuruh itu), maupun pada orang lain. Dia bersenang-senang dengan enjoy-nya bersama orang-orang baik peramai pesta dan keluar dari pesta ketika sudah merasakan cukup serta memberikan informasi pada mereka mengenai pesta-pesta yang akan diadakan. Bersama orang-orang baik yang berada dalam perahu yang sama, dia bisa melompat masuk ke dalam perahu itu, menonjolkan sebanyak mungkin persamaan yang bisa ditemukan. Dia lebih berhati-hati lagi kepada orang baik yang memasang jerat dan perangkap, menolak dengan halus tawaran kebaikan mereka sambil tidak lupa melakukan perbuatan baik yang tak berbahaya pada para penjerat tersebut. Karena pada dasarnya dia orang yang tangguh dan cerdas, dia bisa lulus dalam ujian-ujian yang dibuat oleh orang-orang baik yang mengujinya. Dia paham benar akan pertimbangan orang baik yang menghindari ketergantungan dan mudah baginya untuk bermain dengan aturan-aturan itu, karena dia pun tidak butuh untuk sampai menjadi tergantung. Dengan si Robin Hood, dia bisa menjadi mitra dalam kejahatan, atau istilah kerennya partner in crime. Cukuplah baginya peran di belakang layar, sambil tak lupa meminta jaminan perlindungan dan kerahasiaan bahkan penyangkalan dari Robin Hood atas keterlibatannya dalam kejahatan-kejahatan yang dilakoni si Robin Hood. Kepada Jin dalam Botol, sambil tersenyum dia akan meminta satu hal saja: kabulkan seribu permintaanku. Dia akan berguru, belajar dan menjadi teman diskusi tentang kebaikan dan hidup kepada orang baik yang berperan seperti guru yang partisipatif. Pada orang baik yang hanya punya satu-dua permata hati, dia akan membuat permata hati berhutang budi padanya dan memastikan hal itu diketahui oleh si orang baik. Dia akan mengampuni dan melupakan masa lalu orang baik baru yang sedang menanti ajal dan yang baru bertobat. Dia akan melimpahkan puja-puji kepada orang egois yang narsis. Tidak sulit baginya. Untuk semua itu, dia tidak perlu bekerja sendiri. Dia bisa mengajak kerja sama orang-orang baik lainnya, dia bisa berperan seperti jaringan pipa saluran untuk seribu rumah, atau membangun jaring laba-laba di antara semua orang baik. Dan terakhir, untuk orang yang tidak berbuat baik pada siapa pun, dia memilih untuk berdiam di dekat orang itu, tidak melakukan apa-apa selain menunggu adanya tanda-tanda adanya kemungkinan dia bisa berbuat sesuatu, apa pun itu.              
  
Jadi, begitulah. Kebaikan itu tidak mutlak. Kebaikan itu relatif. Untuk seseorang disebut baik atau tidak, itu juga relatif. You got it?



RTTb, 4 Desember 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar